Minggu, 05 Desember 2010

Beragam Kegiatan Baitul Mal Nusantara


Lampiran 1.

Beragam Kegiatan Baitul Mal Nusantara

Baitul Mal Nusantara (BMN) merupakan wadah kegiatan masyarakat Muslim yang mengabdikan dirinya untuk mengembangkan kembali kegiatan muamalat, baik dalam sisi komersial maupun sosial sesuai dengan hukum Islam.  BMN didirikan di Tanah Baru, Beji, Depok, awal 2008.
Program utama BMN terdiri atas Program Komersial  dan Program Sosial.  Program Komersial difokuskan kepada pengembangan usaha perdagangan melalui  penyediaan modal kemitraan perdagangan dan produksi (berdasarkan kontrak  qirad dan qardul hassan).  Program Sosialnya  difokuskan dalam bentuk-bentuk pengabdian masyarakat seperti penyelenggaraan dapur umum bagi kaum dhuafa, santunan bagi fakir-miskin, pendidikan dan beasiswa,  dan sebagainya.
BMN bersama JAWARA (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara), menyelenggarakan Festival Hari Pasaran (FHP), bareng  dengan pembagian zakat. Berikut  beberapa laporan.
A.      Pembagian Zakat dan Pasar Rakyat
1.       Meruya Jakarta Barat, 02 Oktober 2009:  Pembagian Zakat Baitul Mal Nusantara
ara Penarikan Zakat dalam Dinar Dirham
"Tariklah zakat dari kekayaan mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka dengannya. Dan berdoalah untuk mereka, sungguh do'amu mendatangkan ketentraman bagi mereka. Allah Maha mendengar, Maha mengetahui" (QS At Taubah 103).

Ketaatan umat Islam Indonesia dalam menunaikan kewajiban zakatnya semakin tinggi. Ini dapat dilihat dari jumlah uang yang diterima oleh berbagai institusi yang mengklaim sebagai "amil zakat" di berbagai kota. Namun demikian, tak banyak yang memahami, bahwa selama ini ada kesalahan mendasar dalam tata laksana penarikan dan pembagian zakat, hingga belum sesuai dengan rukun sahnya zakat.

Sekurangnya ada dua rukun zakat yang telah roboh sekrang ini, yaitu (1) zakat harus ditarik, dikumpulkan dan dibagikan oleh Amir-amir atau orang yang ditunjuknya (baca: Rukun dan Tata Cara Penarikan Zakat), dan (2) untuk zakat mal harus diwujudkan dalam bentuk nuqud atau koin Dirham perak atau Dinar emas (baca: Bayarkan Zakat hanya dalam Dinar Dirham). Nisabnya adalah 20 Dinar atau 200 Dirham dengan kewajiban 2.5% atau 0.5 Dinar atau 5 Dirham, masing-masing dengan haul (masa simpan) 1 tahun.

Untuk memulai penegakkan kembali rukun zakat itulah Amirat Indonesia, melalui Baitul Mal Nusantara, menarik dan membagi zakat. Untuk tahun ini penarikan dilakukan sejak menjelang sampai akhir Ramadhan 1430 H. Jumlah zakat yang terkumpul dan dibagikan disajikan pada Tabel 1 di bawah. Pada tahun ini ada enam muzakki yang ditarik zakatnya, dengan total kewajiban 24 Dinar dan 478 Dirham.

Sebagian besar zakat ini  dibagikan  kepada 6 kategori mustahik. Mereka adalah gharimin (orang yang berhutang), muallaf (mereka yang baru/ cenderung memeluk Islam), musafir (ibnu sabil), fi sabilillah, fakir dan miskin (wilayah Jabodetabek), dan amilin (ada empat orang), yaitu petugas-petugas yang ditunjuk untuk melaksanakan penarikan dan pembagian zakat tersebut. Sampai akhir September 2009 masih tersisa dana zakat sebesar 2 Dinar dan 168 Dirham. Selengkapnya lihat Tabel 1 di bawah.
embako
Hanya saja, perlu diketahui juga, dalam pembagian zakat BMN kali ini sebagian (senilai 5 dinar) diberikan dalam bentuk paket sembako), demi kemudahan mustahik. Karena itu, sisa dana zakat yang masih ada akan dibagikan kepada fakir miskin juga, tetapi menunggu momentum diselenggarakannya Festival Hari Pasaran (FHP) Dinar Dirham Nusantara berikutnya.

Tabel 1. Perolehan dan Pembagian Zakat Baitul Mal Nusantara 1430 H
Zakat Terkumpul
Zakat Dibagikan
Muzakki
Dinar
Dirham
Mustahik
Dinar
Dirham

Bp A Pribadi
1

Ibu Gharimin
1


Ibu Heni Y
1
11
Ibnu Sabil

10

Bp Zaim S
6
275
Pembinaan Muallaf
10


PIRAC
12
187
Fi Sabilillah
6


Bp Sutrisno
3.5

Fakir Miskin
5
284

Bp Micky M
0.5
5
Amilin (4 orang)

16

SALDO
24
478
SALDO
2
168


Tujuannya agar para mustahik dapat membelanjakan Dirham yang mereka terima sesuai keperluan masing-masing. Sebelumnya, sebagian dana zakat ini juga dibagikan kepada fakir miskin di sekitar Kampus Mercu Buana, Meruya, bersamaan dengan berlangsungnya FHP Mercu Buana, 12 Sept 2008.

2. Depok, 28 Desember 2009: Walikota Depok Belanjakan Dirham di Pasar JAWARA

alikota Depok Membuka Pasar 
Terbuka Dinar DirhamDibandingkan dengan Festival Hari Pasaran (FHP) Dinar Dirham sebelumnya, pasar yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok bersama JAWARA dan WIN kali ini tampak  berbeda.
Keterlibatan secara langsung MUI (Depok) telah memberikan arti penting bagi penghidupan kembali muamalat, di mana pasar-pasar yang terbuka bagi siapa pun dilaksanakan, dan koin dirham dan dinar diberlakukan sebagai alat tukar.

Lebih istimewa lagi, pasar yang dimulai tepat di awal Muharam 1431 H ini, secara resmi dibuka oleh Bpk Dr Ir Nurmahmudi Isma'il, Walikota Depok. Keterlibatan MUI (Depok) dan Walikota Depok Insya Allah merupakan pintu pembuka bagi dukungan "resmi" kepada dirham dan dinar, serta penghidupan kembali hari-hari pasaran di berbagai wilayah di Indonesia, dari berbagai pihak yang lebih luas di waktu mendatang. Bisa diharapkan kalau saja setiap walikota dan bupati menyediakan tempat-tempat terbuka dan umum di wilayahnya menjadi pasar-pasar umum, persoalan pengangguran dan kemiskinan di wilayah masing-masing akan ikut teratasi.

"Pemakaian kembali dinar dan dirham memberikan keunggulan karena nilainya stabil," kata Pak Walikota dalam sambutan pembukaannya, seraya mengutip kenyataan sejarah bahwa saat ini seekor kambing tetap alikota Depok Belanja menggunakan Dirhamdapat dibeli dengan uang satu dinar, sama dengan harga di  zaman Rasulh saw.   Pak Nurmahmudi Isma'il bukan saja memberikan dukungannya dalam ucapan. Selepas peresmian pasar beliau juga membelanjakan uang dirham peraknya untuk membeli jajanan di pasar terbuka MUI (Depok) ini. Dengan koin satu dirham perak Pak Wali membeli keripik dan lempok durian. "Ini sungguhan, ya," celetuk Pak Wali setengah bergurau mengomentari koin dirhamnya yang laku dibelanjakan.

Dalam dua hari pasar berlangsung telah terjadi transaksi yang tidak kecil, lebih dari 100 dirham perak dan 9.5 dinar emas, belum lagi yang dalam rupiah yang tak sempat dicatat panitia. Jadi, dalam pasar yang relatif sangat kecil tersebut telah ditransaksikan setara sekitar senilai Rp 17 juta. Barang-barang yang diperdagangkan termasuk buku, herbal, pakaian,  makanan dan minuman.
elanja dengan Dirham Perakelanja dengan Dirham Perakelanja dengan Dirham Perak

2.       Depok, 13 Januari 2010:  Lagi, Pembagian Zakat Dirham BMN

Pada tanggal 10 Muharram yang lalu berlangsung acara peletakan batu pertama TPA Al-Kautsar, Sawangan, Depok. Acara tersebut sengaja dipilih waktunya bertepatan dengan memperingati hari anak yatim yang dikenal dalam ajaran Islam sebagai momen untuk menyayangi dan menyantuni anak yatim.

Haji Saefudin, pengurus TPA dan salah satu pengurus MUI Depok, sebagai penyelenggara acara tersebut menekankan pentingnya membina akhlak dan pendidikan anak-anak muslim di Indonesia. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat (RT, RW, wakil Kelurahan, akat DirhamPengurus Pesantren, pengurus MUI, dan tamu dari Saudi Arabia.

Baitul Mal Nusanatara (BMN) turut memanfaatkan momen baik  itu untuk kembali membagi zakat  yang ditarik oleh Amirat Indonesia. Ada sebelas anak  yatim masing-masing menerima  tiga Dirham Perak, dua puluh Dirham di antaranya dari BMN, sisanya dari Al Kautsar. Para pengunjung antusias melihat koin Dirham perak yang bagi sebagian besar merupakan pengalaman pertama mereka mengetahui  Dinar Emas dan Dirham Perak.

Sepekan sebelumnya (2 Muharram 1431 H), bersamaan dengan penyelenggaraan Festival Hari Pasaran Dinar Dirham Nusantara, di Gedung MUI Depok, BMN juga membagikan zakat kepada sepuluh mustahik, masing-masing sebesar lima Dirham. Jadi, total zakat yang ditarik Amirat Indonesia yang dibagikan di Depok dan Sawangan pada periode ini ada 70 Dirham. Pada bulan-bulan sebelumnya BMN telah membagikan zakat Dirham perak dan Dinar emas di beberapa wilayah selain Depok dan Sawangan, yaitu  Meruya Ilir, Jatinegara, Pangalengan, dan Cilincing.

4. Cilincing, Jakarta Utara, 11 Februari 2010:  Zakat Menghidupkan Ekonomi Nelayan
akat Dirham PerakZakat dan Muammalah kembali ditegakkan, para nelayan pun tersenyum.
Festival Hari Pasaran telah sukses dilaksanakan di Kampung Nelayan Cilincing pada 6 Februari 2010 lalu. Alhamdulillah, ternyata melalui zakat yang diterima oleh nelayandhuafa dan lima anak yatim di sana, yang dibagikan melalui Baitul Mal Nusantara (BMN), turut pula dirasakan manfaatnya oleh pedagang setempat. Dengan ceria ibu-ibu nelayan memborong sembako di toko sembako peserta pasar dirham. Meskipun hanya mendapat 1 (satu) dirham perak per keluarga, namun  mengurangi beban hidup di masa paceklik ini.

Aksi borong sembako oleh 30-an ibu-ibu nelayan, tentu saja menyenangkan pedagang. Sebut saja Pak Hasan yang mendapatkan omset tambahan sebesar 12 dirham. Sehari-hari tokonya sepi pembeli, karena jarang yang belanja, paling-paling cuma transaksi hutang saja, itu pun dibatasi nilainya, agar toko sembako Pak Hasan tidak bangkrut kehabisan modal. Begitu juga Ibu Uni yang juga pedagang semvako yang pada saat itu mendapat omset tambahan 16 dirham.

Bukan hanya toko sembako saja yang mendapat rezeki karena adanya suplai dirham dari Muzakki melalui Baitul Mal Nusantara. Toko Mandiri milik Pak Nonong, yang menjual peralatan nelayan ikut 'kecipratan' dirham. Sebab isteri Pak Hasan, setelah mendapatkan dirham, pada hari itu langsung membeli gas elpiji seharga 1/2 dirham di Toko Pak Nonong. Sayangnya koin 1/2 dirham yangtadinya akan dilaunching pada saat itu belum siap edar, sehingga Pak Nonong memberi uang kembalian berupa rupiah.

Warung Ibu Titi yang menjual jajanan pun mendapatkan omset tambahan sebesar 2 dirham dari pengunjung pasar. Meski terbilang sedikit, Ibu Titi begitu senang, sebab di musim paceklik ini paling banter omsetnya hanya Rp.50.000, dengan demikian untung yang diraih sekitar Rp.5.000 - Rp.8.000 saja. Ibu Titi juga berbelanja gas elpiji di Toko Mandiri dengan Dirham Tersebut.

Tak Hanya Pedagang di pinggir kali saja yang merasakan manfaaat dari sirkulasi dirham, dua keluarga yang memiliki anak-anak yatim ikutan Wisata Kuliner dengan dirham pada malam harinya di Jalan Sungai Landak Cilincing, tak jauh dari Kampung Nelayan.

5. Cilincing, Jakarta Utara, 16 Februari 2010:  Semarak Wisata Kuliner Dengan Dirham

Wisata kuliner bukan monopoli segelintir orang.   Dhuafa dan anak yatim pun dapat menikmatinya. .
Wisata Kuliner Dirham PerakSejak  di pertama kali festival dibuka pada 20 NOvember 2009 yang lalu, warga Cilincing mulai menggerakkan  dirham dari tangan ke tangan melalui perniagaan. Namun perputarannya masih sedikit, sekitar 1- 2 dirham/ malam, kecuali untuk kegiatan di lembaga waqaf Ta'awun yang sirkulasi dirhamnya lumayan banyak.
Pasca pembagian zakat untuk 90 orang mustahik yang masing - masing mendapatkan 1/2 dirham di pagi harinya, selepas Isya, puluhan mustahik  berbondong menyerbu kedai   kuliner di Jl Sungai Landak. Sedikitnya ada 16 kedai makanan di pasar ini, sehingga kaum dhuafa dan yatim bebas menentukan makan sesuai selera mereka. Karena belum ada koin 1/2 dirham, panitia menetapkan 1 dirham untuk 2 orang atau 3 orang. Dan ternyata yang hadir pada acara tersebut melebihi kuota yang ditetapkan panitia. Maka dari 45 dirham yang dibagikan, Alhamdulilah dapat dinikmati oleh 115 orang, sehingga kapasitas tempat duduk di kedai - kedai tidak cukup, dan akhirnya mereka membungkus makanan untuk disantap di rumah.
Meski cuaca mendung dan gerimis, kemeriahan pasar tetap semarak. Bberapa  pendatang pemilik dirham turut bergabung dengan  dhuafa tanpa sungkan. Udara sejuk menambah lahap penikmat kuliner. Aneka makanan tersedia, mulai dari bakso, mie ayam, nasi goreng, warung padang, warung tegal, nasi uduk, pempek, nasi bebek, martabak (2 pedagang), roti bakar, pecel lele dan pecel ayam, bubur ayam, dan pisang gencet. Selain 16 Kedai makanan, buka juga 4 toko lain, seperti : Toko obat, Kios pulsa, Toko sembako dan bengkel tambal ban. Dan transaksi pada pasar itu sekitar 180 dirham, karena para nelayan anak buah Kapten Yonkers yang telah digaji dengan dirham ikut ambil bagian keesok harinya (malam Senin).
Pasar malam yang rencananya diadakan hanya semalam, menjadi 2 (dua) malam atas permintaan warga pemilik dirham lainnya. Kegembiraan ini tidak mengurangi fungsi pengawasan pasar serta mencegah koin dirham dan dinar yang tidak sesuai persyaratan Syariah masuk dan beredar.
B.      Wakaf Imarah dan GARNISSUN BANGSA
Melihat berkembangnya usaha tambal ban di Cilincing yang dibantu BMN lewat Wakaf Ta’awun, Ibu Ida Priatna, seorang dermawan dari Jakarta Selatan,  ingin membantu menumbuhkan usahawan mikro tersebut.  Maka, selain menyerahkan 5 Dinar emas zakatnya yang jatuh tempo, ia juga menyumbang  5 Dinar emas lain  untuk Garnissun.  Satu Dinar untuk Wakaf Imarah, selebihnya untuk   nonimarah.

Penyumbang baru selain Ibu Ida adalah Bpk Abu Miftah menyumbangkan 1 Dirham. Bpk Yan Radityo, dua bulan berturut-turut kembali berwakaf,  8 Dirham.  Beberapa wakif rutin kembali menyedekahkan hartanya: ada Pak Sofyan al Jawi (1 Dirham), Pak  Arman (1 Dirham), lalu Bpk Zaim, kali ini menyumbang untuk sedekah nonwakaf ke Garnissun Bangsa, sebanyak 10 Dirham. Yayasan Adina menyumbangkan 50 Dirham untuk Garnissun Bangsa.

Dirham pun bertambah jadi 221 Dirham untuk Imaret, dan 60 Dirham untuk nonwakaf.   Sementara itu, sumbangan  rutin dari WIN  yang diwakafkan periode ini, 1 gr emas, ditambah dari sumbangan eks staf LKJ,  sama besarnya dengan bulan lalu,  sebanyak 3 gr emas.  Total Dinar terkumpul ada 9 dinar, dan emasnya 57 gr. Sedangkan sumbangan 4 Dinar dari ibu Ida Priatna  (dikonversi memperoleh 172 Dirham), seperti telah disebut di atas, dialokasikan untuk  kegiatan permodalan usaha kecil dan kegiatan nonimaret lainnya, dan didistribusikan dalam bentuk Dirham.

Tabel 1. Perolehan Wakaf Imarah BMN Periode Maret  2010

Penyumbang
Wakaf Imaret
Sedekah/Infak


Dinar
Dirham
Emas (gr)
Dinar
Dirham

Saldo Februari 2010
8
210
53


1
Sumbangan WIN


1


2
Sumbangan Bp Arman T

1



3
Sumbangan Pak Sofyan Jawi

1



4
Sumbangan eks LKJ


3


5
Sumbangan Bp  Abu Miftah

1



6
Sumbangan Bp Yan Radityo

8



7
Sumbangan Ibu Ida Priatna
1


4

8
Sumbangan  Bp Zaim  S




10
9
Sumbangan Yayasan Adina




50

Saldo Maret 2010
9
221
57
4
60

Alokasi sementara dana Garnissun Bangsa nonimaret  ditampilkan di Tabel 2. Sebagian digunakan untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi mikro, selebihnya untuk santunan langsung, di sekitar Pasar Dinar Dirham, pada periode ini diberikan di Cilincing, Jakarta Utara. Untuk usaha mikro diberikan sebagai pinjaman kebajikan, dan diharapkan terus menjadi dana bergulir. Total alokasi Garnissun Bangsa periode ini adalah 214 Dirham. Jadi, saldo  sedekah Garnissun Bangsa saat ini ada 18 Dirham.

Tabel 2. Alokasi Dana Garnissun Bangsa (Nonimaret) Feb-Maret 2010.
No
Kegiatan
Jumlah Dana Dirham*)
1
Modal Usaha Bang Udin
36
2
Modal Usaha Bude Yati
15
3
Modal Usaha Tani Bang Abu Bakar
70
4
Modal Usaha Teteh Dewi
15
5
Modal Usaha Wakaf Taawun, Cilincing
43
6
Tunjangan Sosial  Dhuafa Cilincing
25
7
Sumbangan Dhuafa lewat YDD
10

Total Alokasi
214
*) Sumbang yang berupa rupiah dan dinar emas untuk permodalan usaha mikro diwujudkan dalam bentuk dirham.   


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar