Minggu, 05 Desember 2010

FUSHSHILAT



(Yang Dijelaskan)
            Surat ini diturunkan di Mekah setelah surat Ghafir sebanyak 54 ayat.
            Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih.

Haa Miim. (QS. 41 Fushshilat:1)
            Haa miim (haa miim). Yakni, surat ini dinamai haa miim. Surat ini menceritakan Kitab dan jawaban atas orang-orang yang mendebat ayat-ayat Allah serta dorongan agar mengimaninya, mengamalkan tuntutannya, dan sebagainya. Atau bermakna: Huruf-huruf ini diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, yang diturunkan Jibril dari sisi Allah.

            Diturunkan dari  Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 41 Fushshilat: 2)
            Tanzilu (diturunkan), yakni keberadaan ayat-ayat itu diturunkan maksudnya ialah bahwa Allah menulisnya dalam lauh mahfudz, menyuruh Jibril agar memelihara kalimat tersebut, kemudian dia menurunkannya kepada Rasulullah saw. dan menyampaikannya kepada beliau. Tatkala kalimat tersebut hanya dapat difahami melalui penurunan oleh Jibril, maka ia disebut tanzilan.
Minar rahmanir rahimi (dariYang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih). Pengaitan penurunan kepada Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih adalah untuk memberitahukan bahwa al-Quran merupakan poros bagi aneka kemaslahatan dunia dan agama, yang terjadi selaras dengan tuntutan kasih sayang Allah. Hal itu karena jika yang menurunkan memiliki kasih sayang, niscaya Dia mewujudkan segala kebaikan.

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (QS. 41 Fushshilat: 3)
Kitabun (kitab). Apa yang diturunkan itu disebut kitab karena di dalamnya terhimpun ilmu kaum terdahulu dan kaum kemudian.
Fushshilat ayatuhu (yang diterangkan ayat-ayatnya), yang dijelaskan dengan perintah dan larangan, halal dan haram, janji dan ancaman, kisah, dan tauhid.
Ar-Raghib berkata: Firman Allah, uhkimat ayatuhu tsumma Fushshilat menunjukkan kepada apa yang ditegaskan oleh Allah, “sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, dan rahmat.”  Barangsiapa yang menyadari, dia faham bahwa makhluk tidak memiliki kitab yang menghimpun segala ilmu seperti  yang dihimpun al-Quran.
Quranan ‘arabiyyan (al-Quran yang berbahasa Arab). Yang dimaksud dengan kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan itu adalah al-Quran yang berbahasa Arab. Atau keadaan kitab itu sebagai bacaan yang berbahasa Arab. Barangsiapa yang berpendapat al-Quran itu berbahasa asing, dia kafir sebab menentang firman Allah ini. Keberadaan kata-kata asing yang diarabkan dalam al-Quran tidaklah menggugurkan keberadaannya sebagai bahasa Arab, lantaran yang dinilai ialah keumumannya. Di antara kata asing itu ialah qishthas dari bahasa Romawi yang diarabkan dan bermakna timbangan, sijjil dari bahasa Persia yang diarabkan, shalawat dari bahasa Ibrani yang diarabkan, raqim dari bahasa Romawi yang berarti anjing, dan thur dari bahasa Suryani yang berarti gunung.
Liqaumiy ya’lamuna (bagi kaum yang mengetahui), siapa pun mereka. Yakni, bagi kaum yang mengetahui maknanya, sebab al-Quran itu dengan bahasa mereka.

Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling. Maka mereka tidak  mendengarkan. (QS. 41 Fushshilat: 4)
Basyiran (sebagai berita gembira) bagi orang yang membenarkannya, mengetahui nilainya, dan menunaikan haknya bahwa dia akan memperoleh surga.
Wanadziran (dan sebagai peringatan) bagi orang yangmendustakannya, tidak mengetahui nilainya, dan tidak menunaikan haknya bahwa dia akan mendapat neraka.
Fa’aradha aktsaruhum (tetapi kebanyakan mereka berpaling) dari merenungkannya padahal kitab itu menggunakan bahasa mereka. Hum merujuk kepada penduduk Mekah, atau bangsa Arab, atau kaum musyrikin seperti ditunjukkan oleh ayat selanjutnya, kecelakaan yang besarlah bagi kaum musyrikin.
Fahum la yasma’una (maka mereka tidak mau mendengarkan), yaitu mendengar yang disertai pemikiran dan perenungan sehingga memahami keagungan nilainya, lalu mengimaninya.
Dalam Taurat ditegaskan bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Hai hamba-Ku, apakah kamu tidak malu kepada-Ku tatkala kamu memperoleh surat dari saudaramu saat kamu berada di jalan, lalu kamu menepi dan duduk untuk membaca dan meresapkan huruf demi huruf surat yang kamu peroleh? Ini adalah kitab-Ku yang diturunkan kepadamu. Renungkanlah betapa firman itu dijelaskan kepadamu dan betapa sering ia diulang-ulang kepadamu supaya kamu merenungkan panjang dan lebarnya, lalu kamu berpaling dari padanya. Ataukah menurutmu Aku lebih hina daripada saudaramu? Hai hamba-Ku, jika salah seorang saudaramu bertamu maka kamu menghadapinya dengan seluruh tubuhmu. Engkau menyimak perkataannya dengan sepenuh hati, jika dia berbicara. Jika kamu tengah melakukan sesuatu, kamu menghentikannya. Inilah Aku menghadap kepadamu dan berbicara kepadamu, sedang kamu berpaling dengan sepenuh hatimu. Apakah kamu memandang-Ku lebih hina daripada saudaramu?”
           
Mereka berkata, “Hati kami berada dalam tutupan  yang menutupi apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungghnya kami bekerja”. (QS. 41 Fushshilat: 5)
Waqalu (dan mereka berkata). Kaum musyrikin berkata kepada Rasulullah saw. tatkala beliau mengajak mereka beriman dan mengamalkan isi al-Quran.
Qulubuna fi akinnatin (hati kami berada dalam penutup). Akinnah jamak dari kinan yang berarti penutup yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dipelihara dan ditutupi. Makna ayat: Berada dalam penutup yang tebal.
Mimma tadh’una ilaihi (dari apa yang kamu seru kami kepadanya). Penutup itu menghalangi kami untuk memahami apa yang kamu serukan dan kamu sampaikan kepada kami. Mereka menyerupakan hatinya dengan sesuatu yang tertutup dan diliputi dengan penutup yang mengelilingi sehingga isinya tidak dapat disentuh sedikit pun. Demikianlah jauhnya hati mereka dari kebenaran dan keyakinan yang haq.
Sa’di al-Mufti berkata: Di sini dikatakan qulubuna fi, sedangkan dalam surat kahfi dikatakan ‘ala qulubihim, sebab tujuan penggalan ini menyangatkan tiadanya penerimaan. Sesuatu disebut akinnah, jika sebuah isi diliputi oleh penutup sehingga isi itu tidak mungkin dijangkau. Penyangatan demikian tidak dapat diraih dengan memakai ‘ala. Redaksi pada surat Kahfi bertujuan menyatkan ketinggian, sehingga tepat pemakaian ‘ala.
Wafi adzanina waqlun (dan di telinga kami ada sumbatan). Dalam al-Qamus dikatakan: Al-waqru berarti beban pada telinga dan hilangnya seluruh pendengaran. Pendengaran mereka diserupakan dengan telinga yang tuli dalam hal ia tidak dapat dimasuki kebenaran dan tidak cenderung untuk menyimak kebenaran itu.
Wamim bainina wabainika hijabun (dan antara kami dan kamu ada dinding), tirai yang besar dan penutup yang tebal sehingga menghalangi kami melakukan kontak. Kondisi mereka dengan Rasulullah saw. diserupakan dengan kondisi dua perkara yang terhalang oleh hijab yang tebal sehingga pihak yang satu tidak dapat berhubungan, melihat, dan kontak dengan pihak lain. Mereka memvokuskan pada penuturan tiga anggota badan karena kalbu merupakan tempat pengetahuan dan telinga serta mata merupakan sarana yang paling utama untuk memperoleh pengetahuan. Jika ketiga anggota tersebut terhijab, maka tidaklah mungkin diperoleh pengetahuan. Na’udzubillah.
Fa’mal (maka bekerjalah kamu) untuk agamamu.
Innana ‘amiluna (sesungguhnya kami pun bekerja) bagi agama kami.

Katakanlah, “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya (QS. 41 Fushshilat: 6)
Qul innama ana basyarum mitslukum yuha ilayya annama ilahukum ilahuw wahidun (katakanlah, ‘bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu’. Diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa). Tidaklah Tuhanmu kecuali Tuhan yang satu. Tidak ada Tuhan selain Dia. Inilah jawaban yang didiktekan untuk menjawab kaum musyrikin. Makna ayat: Aku bukan dari jenis yang berbeda denganmu sehingga antara aku dan kamu ada penghalang dan perbedaan yang membenarkan adanya perbedaan perilaku dan agama seperti terlihat dari ucapanmu, fa’mal innana ‘amiluna. Namun aku adalah manusia seperti kamu yang diperintah sebagaimana kamu diperintah. Kita semua diberitahu tentang ketauhidan dengan sapaan yang universal yang menyatukan aku dan kamu.
Al-Hasan ra. berkata: Melalui ayat katakanlah, bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, Allah mengajarkan ketawadhuan kepada Nabi saw. Karena itu beliau suka menengok orang sakit, mengantar jenazah, menunggang keledai, dan memenuhi undangan budak sahaya. Pada saat memerangi Bani Quraidhah dan Bani Nadzir, beliau mengendarai keledai yang dikendalikan dengan tali ijuk dan duduk di atas secarik kain.
Fastaqimu ilaihi (maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya). Penggalan ini menyatu dengan penggalan sebelumnya mengenai keesaan Allah karena keesaan ini memastikan kelurusan mereka menuju Allah dengan ketauhidan dan keikhlasan dalam beramal. Istiqamah berarti kontinuitas pada satu hal.
Wastaghfiruhu (dan meminta ampunlah kepada-Nya) dari akidah dan amal yang buruk yang telah kamu lakukan. Nabi saw. bersabda, Istiqamahlah dan kalian tidak akan dapat melakukannya dengan sempurna (HR. Ahmad, Ibnu Majjah al-Hakim, dan Baihaqi). Nabi saw. bersabda, Kisah Hud dan saudara-saudaranya membuatku beruban (HR. Thabrani), karena di dalam kisah itu terdapat ungkapan istiqamahlah.
Wawailul lilmusyrikina (dan kecelakaan yang besarlah bagi kaum musyrikin), yakni azab yang besar bagi mereka. Penggalan ini menakut-nakuti dan menyuruh mereka menjauhi syirik, setelah memotivasi mereka supaya bertauhid.

Yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya  akhirat. (QS. 41 Fushshilat: 7)
Alladzina la yu’tunaz zakata (orang-orang yang tidak menunaikan zakat), yakni tidak mempercayai kewajiban zakat dan tidak menunaikanya.
Wahum bil akhirati hum kafiruna (dan mereka kafir akan adanya akhirat), yakni terhadap kebangkitan setelah mati, pahala, dan siksa. Pengikut mazhab Syafi’i berkata: Ancaman terhadap kaum musyrikin karena kemusyrikannya dan karena tidak menunaikan zakat menunjukkan bahwa saat orang musyrik itu syirik, dia dikhithabi dengan penunaian zakat. Kalaulah tidak dikhithabi, maka dia tidak berhak menerima ancaman tersebut lantaran tidak menunaikannya. Jika dia dikhithabi dengan penunaian zakat, berarti dia dikhithabi pula dengan berbagai cabang hukum Islam lantaran tidak ada perbedaan antara zakat dan rukun Islam lainnya. Maka dia diazab karena meninggalkan semua rukun Islam. Pandangan ini pun dianut oleh para ulama Irak. Namun ulama lai berpendapat bahwa kaum musyrikin hanya dikhithabi dengan keyakinan  akan kewajiban zakat, bukan penunaiannya. Maka mereka disiksa karena tidak meyakini kewajiban zakat sebagaimana hal ini diterangkan dalam masalah akidah. Sebagian ulama berpandangan bahwa kaum musyrikin pun dikhithabi dengan berbagai masalah furu’, asalkan dia memeluk Islam, sebagaimana seorang Muslim dikhithabi dengan shalat dengan syarat berwudhu terlebih dahulu.
Al-Maula Abu as-Sa’ud mengemukakan dalam tafsirnya: Allah menerangkan kaum musyrikin sebagai manusia yang tidak menunaikan zakat guna lebih meningkatkan kewaspadaaan dan kehati-hatian agar tidak menolak kewajiban zakat, sehingga Allah menjadikan penolakannya sebagai sifat orang musyrik yang digandengkan dengan kekafiran akan akhirat. Allah Ta’ala berfirman, Dan mereka ingkar terhadap akhirat.
Dikatakan bahwa zakat merupakan jembatan Islam. Barangsiapa yang menempuhnya, dia selamat. Dan barangsiapa yang tidak menempuhnya, dia binas.
Ibnu as-Sa`ib berkata: Kaum musyrikin suka berhaji dan berumrah, tetapi mereka tidak menunaikan zakat mal. Maka mereka kafir.     

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya (QS. 41 Fushshilat: 8)
Innalladzina amanu wa`amilus shalihati lahum ajrun ghairu mamnun (sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya), yakni tidak disebut-sebut. Maksudnya, pahala itu tidak diungkit-ungkit sehingga menodai nikmat. Manna ‘alaihi berarti menganugrahkan nikmat. Asal makna al-minnah ialah nikmat yang besar yang pemberinya tidak menuntut imbalan dari orang yang menerimanya. Kemudian kata ini digunakan dengan makna menghitung-hitung nikmat. Segala hal yang diberikan Allah kepada hamba-Nya di akhirat merupakan karunia dan anugrah-Nya, bukan kewajiban-Nya. Demikianlah pandangan ahli Sunnah wal Jama’ah. Meskipun nikmat itu merupakan anugrah, dan kalaulah boleh mengungkit-ungkitnya, tetapi Allah tidak melakukannya karena sebagai karunia dan anugra dari-Nya.
Atau ghairu mamnun berarti pahala dan imbalan mereka di akhirat tidak putus-putusnya, tetapi kekal dan abadi. Jika ditafsirkan demikian, mamnun berasal dari manantu al-habla yang berarti aku memutuskan tali. Atau ia berarti tidak terhitung seperti halnya firman Allah, bighairi hisab (tanpa terhitung). Dalam al-Qamus dikatakan bahwa ajrun ghairu mamnun berarti pahala yang tidak terhitung atau terputus.

Katakanlah, “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya. Yang bersifat demikian itulah Tuhan semesta alam”. (QS. 41 Fushshilat: 9)
Qul a`innakum la takfuruna (katakanlah, ‘sesungguhnya patutkah kamu kafir). Penggalan ini memandang ganjil dan buruk atas kekafiran mereka seperti tampak dari pemakaian huruf inna dan lam yang berfungsi menguatkan.
Billadzi khalaqol ardha (kepada yang menciptakan bumi), yang menakdirkan keberadaannya. Yakni, yang menetapkan bahwa ia akan ada.
Fi yaumaini (dalam dua masa), yakni dalam waktu kira-kira dua hari. Dalam Ainul Ma’ani dikatakan: “Dua hari” untuk mengajarkan keseksamaan kepada manusia dan memastikan tiadanya kekeliruan yang disebabkan kecerobohan dalam melakukan pekerjaan. Hal ini merupakan pelajaran bagi malaikat saat penciptaan dilakukan, dan bagi manusia saat hal ini diberitakan. Sesungguhnya Allah berkuasa untuk mengadakannya dalam sekejap tanpa tenggang waktu.
Wataj’aluna lahu andadan (dan kamu adakan sekutu bagi-Nya). Penggalan ini diatafkan dengan takfuruna yang sama-sama dipandang aneh dan dicela. Makna ayat: Kalian menerangkan bahwa Dia memiliki beberapa sekutu, mitra, dan tuhan-tuhan yang mirip, padahal tidaklah mungkin Dia memiliki seorang sekutu, apalagi banyak.
Allah menyuruh Nabi saw. mengingkari dua hal dari mereka. Pertama, kekafiran mereka kepada Allah dengan menolak zat dan sifat-Nya serta mengatakan bahwa Dia tidak dapat menghidupkan orang mati; dan bahwa Dia tidak mengutus seorang rasul kepada manusia. Kedua, mengingkari penetapan sekutu dan tandingan bagi Allah. Kekafiran yang disebutkan lebih dahulu mengubah penetapan sekutu bagi Dia dan mengharuskan penggabungan keingkaran yang satu dengan yang lain.
Dzalika (yang demikian itu), yakni yang besar urusannya dan yang melakukan penciptaan bumi dalam dua masa …
Rabbul ‘alamin (adalah Rabb semesta alam), yakni Pencipta segala yang maujud dan Yang memeliharanya, bukan hanya terhadap bumi. Bagaimana mungkin salah satu makhluk-Nya yang paling hina dijadikan sekutu bagi-Nya?

Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan   dalam empat masa.(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. (QS. 41 Fushshilat: 10)
Waja’ala fiha rawasiya min fauqiha (dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya). Yang dimaksud dengan rawasiya ialah gunung-gunung yang kokoh dan menghunjam, menjulang di atas bumi agar manfaatnya tampak bagi manusia dan jelas bagi orang yang melihat apa yang ada padanya sebagai penunjuk jalan. Bukan hanya karena manfaat tersebut, gunung-gunung itu memang kokoh di atas bumi dan mungkin saja longsor, meskipun di bawahnya terdapat sejumlah ruangan, atau gunung itu menghunjam seperti paku agar tidak tercerabut.
Wabaraka fiha (Dia memberkahinya), yakni Dia menakdirkan banyak manfaat bagi bumi dengan menciptakan berbagai jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber penghidupan binatang atau untuk mendapatkan benih serta manfaat lainnya.
Waqaddara fiha aqwataha  (dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan). Al-qut berarti rizki untuk memelihara nyawa dan menegakkan badan manusia. Qatahu yaqutuhu berarti memberinya makanan pokok. Al-muqit berarti yang mampu memberikan makanan pokok pada setiap orang. Makna ayat: Allah Ta’ala menetapkan, melalui tindakan-Nya, berbagai jenis makanan pokok yang sesuai bagi penduduk bumi dalam kadar tertentu yang selaras dengan tuntutan hikmah. Yang dimaksud dengan aqwatul ardhi ialah rizki penduduk bumi. Maksudnya, Allah menetapkan berbagai makanan pokok penduduk bumi.
Seorang ulama berkata: Allah Ta’ala menetapkan rizki tertentu bagi setiap makhluk. Rizki pokok ini menandakan kebenaran di bumi yang diciptakan sebagai tempat ibadah bagi yang taat dan tempat tidur bagi yang lalai.
Fi arba’ati ayyamin  (dalam empat masa). Allah menetapkan berbagai jenis makanan pokok dalam dua hari, yaitu hari Selasa dan hari Rabu, sebagaimana akan dijelaskan. Di sini dikatakan empat hari sebagai jumlah hari secara keseluruhan, sebab sebelumnya telah dikatakan dua hari, sehingga jumlahnya menjadi empat hari. Seolah-olah dikatakan: Allah memancangkan gunung-gunung yang kokoh, menetapkan makanan pokok, dan menyediakan berbagai kebaikan  selama dua hari, setelah Dia menciptakan bumi dalam dua hari pula. Allah tidak menegaskan penciptaan bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya selama empat hari, karena sebelumnya Dia telah menegaskan bahwa penciptaan langit itu dalam dua hari, sehingga penciptaan keseluruhannya menjadi delapan hari, padahal tidaklah demikian, karena penciptaan langit, bumi, dan segala isinya berlangsung selama enam hari sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran secara berulang-ulang.
Sawa`an  (yang sama), yakni keempat hari itu sama. Artinya, Dia menciptakan hal itu dalam empat hari penuh, tidak kurang dan tidak lebih.
Lissa`ilina (sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya) tentang ;amanya penciptaan bumi dan segala isinya. Mereka bertanya, berapa lama bumi dan isinya diciptakan?

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati” (QS. 41 Fushshilat: 11)
            Tsummastawa ilassama`i (kemudian Dia menuju langit). Allah mulai menjelaskan proses penciptaan setelah menerangkan proses penetapan. Penjelasan hal-hal yang berkaitan dengan bumi dan penghuninya disajikan secara khusus karena penjelasan tentang perhatian Allah terhadap kepentingan manusia dan penyediaan penghidupannya sebelum mereka diciptakan dapat mendorong mereka beriman dan dapat menjauhkan mereka dari kekafiran dan kezaliman. Istawa berarti tidak bengkok, terutama dikenakan pada kayu yang lurus dan tegak. Di sini kata itu berarti tujuan dan arah. Makna ayat: Kemudian Dia menuju ke langit dengan keinginan dan kehendak-Nya dan mengarah ke sana tanpa berkehendak menciptakan sesuatu yang lain yang sama.
Dikatakan: Istawat ila makani kadza yang artinya sesuatu yang mengarah seperti anak panah yang melesat dan mengarah secara tepat tanpa berbelok ke arah lain. Penggalan itu menonjolkan kesempurnaan inayah Allah dalam menciptakan benda-benda angkasa.
Wahiya dukhonun (dan langit itu masih merupakan asap). Dukhan merupakan unsur bumi yang halus dan naik ke udara disertai panas. Dalam al-Mufradat dikatakan: Ad-dukhan ialah asap yang menyertai jilatan api. Al-bukhar ialah unsur air yang basah dan naik ke udara bersama sinar matahari yang kemudian kembali sebagai air. Makna ayat: Sedangkan langit masih berupa asap, yaitu perkara yang bersifat gelap dan dianggap sebagai asap yang membumbung dari api. Penggalan itu merupakan tasybih baligh. Pengungkapan langit dengan asap karena melihat kejadian awalnya.
Ar-Raghib menafsirkan wahiya dukhanun: Langit seperti asap. Hal ini menunjukkan bahwa langit tidak padat. Karena awalnya langit itu berwarna gelap, tepatlah jika disebut asap karena kemiripannya dilihat dari segi asap sebagai unsur yang berpisah-pisah, tidak menyatu, dan tidak bercahaya seperti halnya asap yang tidak memiliki bentuk terstruktur.
Ulama lain menafsirkan wahiya dukhanun : Asap yang naik dari air. Artinya langit itu merupakan uap air yang seperti asap.
Faqala laha walil ardhi  (lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi) yang ditakdirkan keberadaannya dan keberadaan isinya.
`Itiya (datanglah kamu keduanya), yakni jadilah kamu berdua sebagai benda yang tersendiri pada waktu yang ditentukan bagi masing-masing bumi dan langit. Penggalan ini mengungkapkan keterkaitan kehendak Allah Ta’ala dengan keberadaan keduanya secara nyata.
Thau’an awkarhan (menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa). Thau’un berarti patuh. Lawannya ialah kurhun. Makna ayat: Sedang kamu berdua taat dan patuh atau kamu berdua terpaksa, jika kamu rela atau menolak. Penggalan ini menggambarkan pengaruh kekuasaan Allah terhadap keduanya secara pasti dan kemustahilan penolakan keduanya, sebab adanya kepatuhan dan keterpaksaan pada bumi dan langit, yang kedua sifat ini merupakan karakter makhluk berakal yang memiliki kehendak dan pilihan, sedangkan bumi dan langit merupakan benda yang tidak memiliki kehendak dan pilihan.
Qalata ataina tha`i’ina  (keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati), yakni dengan patuh. Penggalan ini menggambarkan terpengaruhnya bumi dan langit oleh kekuasaan Rabb dan terwujudnya kedua benda itu sebagaimana diperintahkan; menggambarkan keberadaan keduanya sebagaimana semestinya selaras dengan tuntutan hikmah yang dalam, sebab kata taat menegaskan hal itu, dan kata terpaksa mengindikasikan kebalikannya.
 Dalam at-Ta`wilatun Najmiyah dikatakan: Ayat itu mengisyaratkan bahwa dengan kekuasaan yang sempurna, Allah membuat langit yang diketahui dan bumi yang tidak ada dapat berbicara setelah Dia memperdengarkan kepada keduanya sapaan `itiya thau’an aw karhan, agar keduanya menjawab ataina tha`I’ina. Pertama-tama keduanya disebutkan dengan bentuk muannats karena semula keduanya tidak ada dan bersifat muannats, lalu diungkapkan dengan bentuk mudzakar karena Dia menghidupkan dan membuat keduanya berakal. Lalu keduanya menjawab ataina tha`I’ina sebagai jawaban makhluk berakal.

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. 41 Fushshilat: 12)
            Faqadhahunna sab’a samawatin (maka Dia menjadikannya tujuh langit). Penggalan ini menafsirkan dan memerinci pembentukan langit yang semula diceritakan secara global melalui perintah dan jawaban. Makna ayat: Dia menciptakannya sebagai tujuh langit. Atau sebagai tujuh langit yang baru, yang tidak didahului oleh sebuah model. Dia menyempurnakannya sehingga pada langit tersebut tidak ada celah dan kekurangan selaras dengan tuntutan hikmah.
            Fi yaumaini  (dalam dua masa), yakni dalam waktu yang lamanya kira-kira dua hari, yaitu hari Kamis dan Jum’at. Allah menciptakan tujuh langit pada hari Kamis dan menciptakan isinya seperti matahari, bulan, dan bintang pada hari Jum’at. Allah telah menjelaskan masa penciptaan bumi dan isinya saat menerangkan penetapan langit dan bumi. Jadi, penciptaan seluruhnya terjadi dalam enam hari sebagaimana hal ini ditegaskan dalam berbagai ayat al-Quran.
Wa`auha fi kulli sama`in amraha (dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya). Auha berarti menciptakan sebagai perintah yang dikaitkan dengan unsur waktu. Makna ayat: Allah menciptakan malaikat, benda-benda langit, dan hal lainnya yang hanya diketahui Allah di langit. Allah memperlihatkan kehendak-Nya dan menyampaikan perintah-Nya kepada setiap langit serta memberikan berbagai tugas kepada setiap penghuninya. 
Wazayyanas sama`ad dunya bimashabiha (dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang), yakni bintang-bintang yang bersinar seperti lampu pada malam hari. Semuanya tampak berkelap-kelip di langit dunia. Yang dimaksud dengan al-mashabih ialah planet-planet yang bercahaya yang diciptakan Allah di langit, baik planet yang diam maupun yang bergerak, sebab kita melihat seluruh planet itu seperti lampu yang dinyalakan.
Dikatakan: Pada setiap langit terdapat planet yang menyala. Namun yang lain mengatakan bahwa planet-planet tersebut hanya ada di langit dunia.
Wahifdzan  (dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya) dari berbagai bencana dan dari setan yang mencuri informasi, yang naik ke langit. Maka mereka dilempari bola api yang berasal dari serpihan planet-planet. Mereka tidak dilempari dengan planet itu sendiri karena ia tetap sebagai bulatan pada falak sebagaimana adanya. Bola api itu seperti obor yang diambil dari sumber api, sedangkan sumber itu tetap dan tidak berkurang.
Dzalika (demikianlah) yang Kami ceritakan secara rinci.
Taqdirul ‘azizil ‘alimi (ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui), yang sangat berkuasa. Maka Dia memiliki kekuasaan atas segala hal yang dapat ditakdirkan dan sangat mengetahui, sehingga Dia mengetahui segala hal yang dapat diketahui. Ayat ini tidak menunjukkan urutan pengadaan bumi dan pengadaan langit. Yang ada adalah pengurutan penetapan takdir dan pengadaannya. Jika penciptaan itu dan tiga perbuatan lain yang terkait dengannya (penciptaan gunung, binatang dan tumbuh-tumbuhan, dan makanan pokok) ditujukan kepada makna lahiriah, berarti penciptaan bumi dan isinya mendahului penciptaan langit dan isinya. Inilah tafsiran yang disepalati para ahli tafsir. Tafsiran ini dikuatkan oleh firman Allah, Dialah yang telah menciptaakn segala apa yang ada di bumi bagi kamu. Kemudian Dia menuju ke langit.
Dikatakan: Penciptaan bumi mendahului penciptaan langit, tetapi penghamparan bumi dan penciptaan isinya dilakukan kemudian, karena Allah Ta’ala berfirman, Dan sesudah itu bumi dihamparkan-Nya. Demikianlah tafsirannya jika memandang tsumma sebagai penunjuk perbedaan waktu. Jika tsumma dipandang menunjukkan perbedaan urutan peringkat mulai dari yang rendah ke yang tinggi, maka penciptaan langit mendahului penciptaan bumi dan segala isinya sebagaimana tafsiran ini diikuti oleh sejumlah ulama. Jadi, pada ayat di atas tidak ada hal yang menunjukkan urutan seperti yang diikuti oleh penafsiran pertama.
Syaikh an-Naisaburi berkata: langit diciptakan sebelum bumi supaya manusia mengetahui bahwa perbuatan-Nya berbeda dengan perbuatan makhluk, sebab Dia pertama-tama menciptakan atap kemudian menciptakan pondasi. Dia juga meninggikan langit tanpa tiang guna menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan perbuatan-Nya.
Diriwayatkan bahwa Allah menciptakan bumi pada hari Ahad dan Senin. Dia menghamparkannya dan menciptakan pada hari Selasa dan Rabu. Dia menciptakan langit dan isinya pada Hari Kamis dan Jum’at. Dia menciptakan Adam pada penghujung hari Jum’at. Jum’at adalah hari kiamat terjadi. Ia dinamai Jum’at karena berkumpul dan sempurnanya seluruh penciptaan. Karena Allah tidak menciptakan apa pun pada hari Sabtu, Bani Israil tidak melakukan kesibukan apa pun pada hari itu. Demikianlah dikatakan dalam Hawasyi Ibnu Syaikh. Dengan keterangan ini terbantahlah pendapat Sa’di al-Mufti yang tidak menentukan hari penciptaan. Ibnu ‘Athiyah berkata: Dari kisah di atas jelaslah bahwa Jum’at yang menjadi saat penciptaan Adam telah didahului oleh hari-hari lainnya dan hari-hari yang digunakan Allah untuk menciptakan berbagai makhluk merupakan hari yang pertama, sebab dengan adanya bumi, langit, dan matahari, terciptalah hari.
Sehubungan dengan penciptaan pada hari Jum’at, dalam sebuah Hadits dikatakan, Ia adalah hari saat Allah memfardukan pekerjaan kepada Yahudi dan Nasrani, lalu ia menyesatkannya, tetapi Allah menunjukkanmu kepadanya. (HR. Bukhari Muslim) Yakni, mereka diperintah mengagungkan hari Jum’at dan mengkonsentrasikan diri dalam beribadah. Kemudian kaum Yahudi menggantinya dengan hari Sabtu sesuai dengan seleranya, sebab mereka berpendapat bahwa hari Sabtu ialah saat yang digunakan Allah untuk beristirahat dari penciptaan langit, bumi, dan segala makhluk yang menjadi isinya. Mereka berlandaskan pada Ahad sebagai hari pertama dalam satu minggu. Dan karena Ahad merupakan awal kegiatan penciptaan.
Ulama lain berpendapat bahwa secara lughawi Ahad merupakan hari pertama dalam satu minggu. Tetapi menurut kebiasaan ahli fiqh, Sabtu merupakan hari pertama. Lalu orang Nasrani mengganti hari Jum’at dengan hari Ahad sesuai dengan seleranya, yakni didasarkan bahwa Ahad merupakan hari pertama Allah memulai segala penciptaan. Dalam Hadits marfu dikatakan, Hari Jum’at merupakan rajanya hari dan yang paling agung dalam pandangan Allah. Kautamaannya dibanding hari lain seperti keutamaan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Saat ijabah yang terdapat pada hari Jum’at seperti malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
Dalam Hadits lain dikatakan, Bacalah shalawat sebanyak-banyaknya kepadaku pada malam Jum’at dan hari Jum’at karena shalawatmu disampaikan kepadaku, lalu aku mendoakanmu dan memohankan ampun untukmu (HR. al-Baihaqi).         

Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan kaum Tsamud”. (QS. 41 Fushshilat: 13)
Fa`in a’radlu (jika mereka berpaling), jika kafir Quraisy berpaling dari keimanan setelah adanya penjelasan ini, yaitu penjelasan tentang benda-benda angkasa dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya…
Faqul andzartukum (maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu) dan menakut-nakuti kamu. Bentuk madli menunjukkan bahwa apa yang diperingatkan itu pasti terjadi.
Sha’iqatan (dengan petir), yakni azab yang menakutkan dan sangat keras bagaikan petir. Asal makna petir ialah sebongkah api yang jatuh dari langit lalu membakar apa yang ditimpanya. Di sini petir menunjukkan azab yang sangat keras karena ada kemiripan di antara keduanya.
Mitsla sha’iqati ‘adin wa tsamuda (seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan kaum Tsamud), yakni tiada lagi cara untuk menanganimu kecuali dengan menurunkan azab yang pernah diturunkan kepada kaum terdahulu yang ingkar, durhaka, dan berpaling dari Allah dan dari upaya mendapatkan ridha-Nya. Mereka adalah kaum yang mendahului kamu dalam pendustaan, keingkaran, dan pembangkangan. Dan sungguh kamu telah menempuh jalan mereka, sehingga kamu akan dibinasakan seperti mereka.
Muqatil berkata: ‘Ad dan Tsamud merupakan saudara sepupu. Demikian pula antara Musa dan Qarun, Ilyas dan Ilyasa’, dan antara Isa dan Yahya. Kedua kabilah ini disebutkan secara khusus sebab bekas perkampungan keduanya menjadi perlintasan perjalanan kaum kafir pada musim panas dan dingin, sehingga mereka dapat melihatnya. 
           
Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka,  “Janganlah kamu menyembah selain Allah”. Mereka menjawab, “Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya”. (QS. 41 Fushshilat: 14)
            Idz ja`athumur rusulu (ketika rasul-rasul datang kepada mereka). Di sini terjadi pemakaian bentuk jamak untuk menunjukkan mutsanna, sebab Hud datang kepada kaum ‘Ad dan Saleh datang kepada kaum Tsamud. Makna ayat: petir itu seperti petir yang ditimpakan kepada kaum ‘Ad dan Tsamud tatkala rasul menjumpai mereka, lalu mereka mendustakannya.
Mimbaini aidihim wamin khalfihim (dari depan dan dari belakang mereka), yakni dari seluruh penjuru. Para rasul berjuang dengan menerapkan segala cara dalam membimbing dan mengarahkan. Kadang-kadang bimbingan dilakukan secara lembut dan kadang-kadang dengan keras; kadang-kadang dengan iming-iming dan dengan menakut-nakuti. Jadi, maksudnya bukan arah yang bersifat fisik dan tempat. Atau arah dalam pengertian waktu pemberian peringatan melalui berbagai peristiwa yang ditimpakan kepada kaum kafir serta arah dalam pengertian waktu yang akan datang berupa peringatan akan azab yang disediakan untuk mereka pada hari kiamat. Mungkin pula penggalan ini menyatakan banyak seperti makna yang terdapat pada firman Allah, ya`tiha rizquha raghadan min kulli makanin. Maka yang dimaksud dengan rusul ialah rasul-rasul terdahulu dan yang kemudian, atau utusan para rasul. Ditafsirkan demikian karena yang datang adalah dua orang rasul dan dua itu bukanlah jamak.
Ala ta’budu illallaha (janganlah kamu menyembah selain Allah), yakni janganlah kalian, wahai kaum, menyembah kecuali Allah. Mereka diperintah menyembah Allah Yang Esa.
Qalu (mereka menjawab) dengan nada melecehkan para rasul.
Lau sya`a rabbuna (kalau Tuhan kami menghendaki) pengutusan rasul-rasul…
La`anzala mala`ikatan (tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya), niscaya Dia mengutus mereka, bukan kamu, sehingga kami tidak meragukannya lalu kami mengimaninya.
Fa`inna bima ursiltum bihi kafirun (maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya). Penggalan ini bukanlah pengakuan mereka atas pengutusan rasul, sebab mereka tetap tidak beriman kepada rasul dan kepada risalahnya.
Diriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata di depan kaum Quraisy, “Persoalan Muhammad masih samar bagi kita. Sebaiknya kita mendatangkan orang yang menguasai syair, pedukukan, dan sihir, lalu dialah yang berdialog dengan Muhammad sehingga kita beroleh kejelasan tentang Muhammad.”
‘Uthbah bin Rabi’ah berkata, “Demi Allah, sungguh aku telah menyimak puisi, pedukunan, dan sihir serta aku mengetahuinya secara mendalam dan tidak ada hal yang samar bagiku. Hadapkanlah dia kepadaku.”
Setelah Nabi saw. datang, dia berkata, “Hai Muhammad, apakah kamu lebih baik daripada Hasyim? Apakah kamu lebih baik daripada Abdul Muthalib? Apakah kamu lebih baik dari Abdullah? Mengapa kamu mencaci tuhan-tuhan kami dan menuduh kami sesat? Jika kamu menginginkan kepemimpinan, kami berikan panji kepadamu dan kamu menjadi pemimpin kami. Jika kamu menginginkan istri, kami kawinkan kamu dengan sepuluh wanita Quraisy sesuai pilihanmu. Jika kamu menginginkan harta, kami kumpulkan harta yang membuatmu kaya.”
Rasulullah saw. diam. Setelah ‘Uthbah selesai, beliau bertanya, “Hai Abu al-Walid, apakah sudah selesai?” Dia mengiyakannya.
Nabi saw. bersabda, “Simaklah, Haa miim … Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan kaum Tsamud”.
‘Uthbah menutup mulut Rasulullah saw. dan meminta belas kasihannya. Dia pulang kepada keluarganya dalam keadaan bingung menghadapi persoalan Rasulullah. Dia tidak menemui kaum Quraisy dan tidak ke luar rumah, padahal mereka tengah menunggu berita darinya. Karena tidak kunjung muncul, mereka berkata, “Kami kira ‘Uthbah telah berpindah agama.” Berangkatlah mereka menemuinya. Mereka berkata, “Hai ‘Uthbah, tidaklah kamu menemui kami melainkan karena kamu telah berpindah agama.”
‘Uthbah marah, lalu berkata, “Demi Allah, sungguh aku telah berbicara dengannya. Lalu dia menjawabku dengan sesuatu yang, demi Allah, bukan puisi, bukan mantra, dan bukan pula sihir. Tatkala dia sampai pada ucapan “petir kaum ‘Aad dan Tsamud”, aku menutup mulutnya dan memintanya berbelas kasihan dengan tidak melanjutkan ucapannya. Sungguh aku tahu bahwa apabila Muhammad mengatakan sesuatu, dia tidak pernah bohong. Maka aku takut kalian ditimpa azab.”
Namun mereka tetap tidak bergeming hingga akhirnya tewas dalam Peristiwa Badar. Allah menolak kecuali Dia menyempurnakan cahaya-Nya dan memenangkan agama-Nya. Maka terjadilah apa yang dikehendaki Allah, bukan apa yang dikehendaki mereka.

Adapun kaum 'Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka. Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda Kami. (QS. 41 Fushshilat: 15)
            Fa`amma ‘adun fastakbaru fil ardhi (adapun kaum 'Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi), yakni mereka congkak terhadap penduduk bumi.
Bighairil haqqi (tanpa alasan yang benar) dan mereka berlindung kepada kekuatan dirinya.
Waqalu (dan mereka berkata) karena tertipu oleh kekuatan yang didasarkan atas besarnya tubuh.
Man asyaddu minna quwwatan (siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami). Tinggi badan mereka rata-rata 18 hasta. Kekuatan mereka terlihat dari kemampuannya mengangkat batu besar dari gunung, kemudian menempatkannya di tempat yang dikehendaki. Mereka mengira dapat menolak azab dengan kelebihannya itu. Kekuatan telah menipunya tatkala mereka ditimpa bencana. Allah membantah mereka,
Awalam yarau  (dan apakah mereka itu tidak memperhatikan), yakni apakah mereka lupa dan tidak mengetahui dengan terang dan jelas melalui penglihatan mata secara nyata…
Annallaha allazdi khalaqahum (bahwa Allah yang menciptakan mereka) dan menciptakan segala perkara lainnya, terutama benda-benda yang besar seperti langit, gunung, dan sebagainya...
Huwa asyaddu minhum quwwatan  (adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka), yakni kekuasaan al-Khaliq pasti lebih kuat daripada kekuasaan makhluk.
Wakanu bi`ayatina (dan adalah mereka, terhadap ayat-ayat Kami) yang diturunkan kepada para rasul.
Yajhaduna (mereka ingkar). Juhud berarti mengingkari sesuatu yang diketahui. Makna ayat: Mereka mengingkari ayat-ayat itu, padahal mereka mengetahui kebenarannya seperti orang yang dititipi mengingkari dan menolak titipan yang diserahkan kepadanya. Penggalan ini menolak perkataan mereka yang keji. Mereka menyatukan antara kesombongan dan upaya mencari ketinggian di muka bumi. Itulah kefasikan dan perbuatan yang ke luar dari ketaatan karena tidak berbuat baik kepada makhluk. Juga mereka menyatukan antara keingkaran terhadap ayat dan ketidakhormatan kepada makhluk. Mereka adalah orang-orang fasik dan kafir. Karena kedua sifat ini merupakan sumber dari berbagai sifat tercela, tentu Allah mengirimkan azab atas mereka sebagaimana firman-Nya,

Maka Kami meniupkan angin yang amat dingin kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. (QS. 41 Fushshilat: 16)
            Fa`arsalna ‘alaihim rihan sharshara (maka Kami meniupkan angin yang amat dingin kepada mereka) guna mengangkat mereka dari tempatnya. Sharir ialah angin yang sangat dingin yang membinasakan dan membakar karena demikian dinginnya seperti api yang membakar karena panasnya. Ia terambil dari as-shirru yang berarti dingin. Atau ia berarti angin yang hembusannya bergemuruh. Jika ditafsirkan demikian, ia berasal dari shariir.
Fi ayyamin nahisatin (dalam beberapa hari yang sial). Nahisah berasal dari nahisa nahsan yang merupakan lawan dari sa’ida sa’dan dengan metrum ‘alima.
Ad-Dhahak berkata: Allah Ta’ala menahan hujan dari mereka selama tiga tahun dan angin senantiasa menerpa mereka tanpa hujan.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra.: Jika Allah menghendaki kebaikan bagi satu kaum, Dia mengirimkan hujan kepada mereka dan menahan angin yang banyak. Jika Dia menghendaki keburukan bagi suatu kaum, Dia menahan hujan dan mengirimkan banyak angin.
Makna ayat: Pada hari-hari yang buruk yang tidak ada kebaikan sedikit pun padanya. Keburukan hari itu ialah Allah mengekalkan angin pada masa tersebut tanpa henti sehingga kaum itu binasa karenanya. Kesialan di sini bukanlah seperti yang dikatakan para astrolog bahwa ada hari yang sial dan ada yang  menguntungkan dengan menjadikan ayat ini sebagai dalilnya. Sesungguhnya masa itu sama. Tidak ada perbedaan di antaranya kecuali karena perbedaan ketaatan dan kemaksiatan yang terjadi di dalamnya. Hari Jum’at adalah hari bahagia bagi orang yang taat, tetapi merupakan hari celaka bagi yang maksiat, walaupun substansinya sebagai hari bahagia. Seseorang berkata di dekat al-Asmu’i, “Zaman telah rusak”. Al-Asmu’i berkata:
Hari yang baru sepanjang masa yang berbeda tidak merusak,
Tetapi manusialah yang merusak
Dikatakan:
Kita mencela masa, padahal noda ada pada diri kita
Zaman tidak bernoda, yang bernoda adalah kita
Linudziqahum (karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu) dengan angin yang memandulkan tanaman itu...
 ‘Azabal khizyi fil hayatid dunya (siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia), yakni azab yang hina lagi menghinakan, sebab yang hina dan menghinakan itu pada hakikatnya adalah penerima azab, bukan azab itu sendiri.
Wala ‘adzabul akhirati akhza (dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan), yakni lebih hina dan lebih hebat daripada azab dunia. Pada hakikatnya azab ini pun merupakan penjelasan bagi orang yang diazab. Azab disifati dengan sifat tersebut karena azab menimbulkan kehinaan.
Wahum la yunsharuna (sedang mereka tidak diberi pertolongan) dengan menjauhkan azab dari mereka dengan berbagai cara, baik di dunia maupun di akhirat, sebab mereka tidak pernah menolong Allah dan agama-Nya. Adapun orang Mukmin, meskipun mereka lemah, adalah ditolong Allah, sebab mereka suka menolong Allah dan agama-Nya. Alangkah menakjubkan pihak yang kuat dibanding yang lemah dan alangkah mengherankan pihak yang lemah dibandingkan pihak yang kuat. Dalam Hadits dikatakan, Sesungguhnya kamu ditolong karena kelemahanmu (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim). Yakni, ditolong oleh orang lemah yang mendoakanmu supaya mendapat pertolongan.
Kaum ‘Ad diazab dengan angin sangat dingin karena mereka tertipu oleh badannya yang tinggi, tubuhnya yang besar, dan kekuatannya yang berlebih sehingga mereka menyangka bahwa jika tubuh memiliki kekuatan dan bobot seperti itu, maka ia akan kokoh pada tempatnya, tangguh, dan tidak dapat digelincirkan dari posisinya oleh bencana apa pun. Lalu Allah mengirimkan angin kepada mereka. Maka tubuh mereka menjadi seperti bulu di angkasa.
Adalah Nabi saw. suka berlutut saat angin berhembus sambil berdoa, Ya Allah, jadikanlah sebagai angin rahmat dan jangan menjadikannya sebagai azab. Ya Allah, jadikan ia sebagai angin-angin rahmat bagi kami dan bukan sebagai angin azab.
            Nabi saw. menggunakan bentuk jamak karena angin yang berbentuk tunggal di dalam al-Quran bermakna azab seperti firman Allah, Dan Kami mengirimkan kepada mereka angin yang sangat dingin … seperti pada surat ini. Namun ada pula bentuk tunggal yang berarti angin baik, seperti firman Allah, Wajaraina bihim birihin thayyibah. Setiap rih yang berbentuk jamak, maka maknanya pasti angin rahmat.
            Nabi saw. suka berdoa saat berhembus angin, mendengar gemuruh angin, petir, dan guruh, Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan murka-Mu dan jangan pula Engkau membinasakan kami dengan azabmu serta Engkau telah menyehatkan kami sebelumnya.
            Dalam Hadits lain dikatakan,  Janganlah kamu mencaci angin. Jika melihat sesuatu yang tidak kamu sukai, bacalah, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan perkara yang ada di dalamnya, dan kebaikan perkara yang karenanya Engkau perintahkan; dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang ada padanya, dan keburukan perkara yang diperintahkan karenanya (HR. Tirmidzi).

Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 41 Fushshilat: 17)
            Wa amma tsamudu (dan adapun kaum Tsamud), yaitu kabilah Tsamud. Tsamud merupakan nama nenek moyang kabilah itu.
Fahadainahum (maka mereka telah Kami beri petunjuk) kepada perkara yang mengantarkannya ke tujuan, apakah hal itu membuahkan hidayah maupun tidak. Penggalan ini seperti firman Allah Ta’ala, Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (asy-Syura: 52). Penggalan itu bukan mengungkapkan makna yang terikat dengan keberadaan petunjuk yang mengantarkan kepada hadiah, sebab Allah Ta’ala berfirman, Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum kafir. Makna ayat: Kami menunjukkan mereka dengan membentangkan ayat-ayat kauniah, mengutus para rasul, dan menurunkan ayat-ayat yang mulia.
Fastahabbul ‘ama ‘alal huda (tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk itu). Hakikat “menyukai” ialah hendaknya seseorang berupaya meraih sesuatu dan menyukainya. Pemakaian transitif ‘ala menunjukkan makna pengutamaan dan pemilihan. Artinya, mereka lebih memilih kesesatan daripada hidayah karena mata hatinya buta; memilih kekafiran daripada keimanan; dan memilih maksiat daripada taat.
Fa`akhadzathum sha’iqatul ‘adzabil huni (maka mereka disambar petir azab yang menghinakan). Al-hun berarti kerendahan dan kehinaan. Azab disifati demikian untuk menyangatkan. Makna ayat: mereka ditimpa kengerian azab yang menghinakan seolah-olah azab itu merupakan kehinaan itu sendiri  berupa pekikan jibril. Sha’iqah merupakan azab yang menghinakan. Azab diserupakan dengan sha’iqah karena kerasnya dan kengeriannya sebagaimana telah dijelaskan.
Yang lain menafsirkan: Petir dari langit berarti api yang menghancurkan dan membakar mereka. Jadi, sha’iqatul ‘adzabi merupakan izhafat nau’ kepada jins dengan menyiratkan huruf min, sehingga asalnya min jinsil ‘adzabil muhini, yakni azab yang sangat menghinakan orang yang diazab, sehingga azab dianggap kehinaan itu sendiri.
Bima kanu yaksibuna (disebabkan apa yang telah mereka kerjakan), yaitu memilih kesesatan, kekafiran, dan kemaksiatan. Mereka disiksa dengan petir sebab mereka tidak mau mendengar kebenaran.

Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 41 Fushshilat: 18)
            Wanajjainal ladzina amanu (dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman) dari petir tersebut. Jumlah mereka sebanyak 110 jiwa.
Wakanu yattaquna (dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa), yakni memelihara diri dari syirik atau dari menyembelih unta. Ayat ini menunjukkan bahwa sarana untuk meraih keselamatan dari neraka ialah keimanan dan ketakwaan, yang keduanya merupakan sifat qalbu. Orang kafir didatangi malaikat azab, sedangkan orang Mu`min disalami mala`ikat rahmat.

Dan ingatlah hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. (QS. 41 Fushshilat: 19)
            Wayauma yukhsyaru a’da`ullahi (dan ingatlah hari ketika musuh-musuh Allah digiring). Al-hasyru berarti mengeluarkan sekelompok orang dari tempatnya serta menghalau mereka ke medan perang atau selainnya. Kata ini hanya dikenakan kepada banyak orang. Makna ayat: Hai Muhammad, ingatkanlah kepada kaummu ketika musuh-musuh Allah tersebut, seperti ‘Ad dan Tsamud, dikumpulkan ke neraka. Penggalan ini senada dengan firman Allah, Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal” (al-Waqi’ah: 50). Hal karena seperti yang akan ditegaskan dalam firman Allah,  Dan tetaplah atas mereka keputusan azab kepada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia (Fushshilat: 25). Pemakaian kata musuh bertujuan mencela dan memberitahukan mengapa mereka berhak menerima aneka azab.
Ilannari (ke dalam neraka), yakni ke tempat hisab, sebab di sanalah terwujud kesaksian yang akan diberikan, bukan setelah selesai tanya – jawab dan penggiringan ke neraka. Tempat hisab diungkapkan dengan neraka untuk memberitahukan bahwa itulah akhir dari kegiatan penggiringan, bahwa mereka sebentar lagi akan memasukinya, atau hisab di lakukan di bibir neraka.
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang tidak melaksanakan perintah Allah, tidak menjauhi aneka larangan-Nya, dan tidak mengikuti Rasul-Nya, maka dia musuh Allah, walaupun dia “beriman” kepada Allah dan mengakui keesaan-Nya.
Fahum yuza’una (lalu mereka dikumpulkan), yakni rombongan pertama ditahan agar menunggu rombongan yang terakhir. Penggalan ini menggambarkan banyaknya ahli neraka dan bahwa penyatuan serta penahanan merupakan satu jenis siksa juga.

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 41 Fushshilat: 20)
            Hatta idza ma ja`uha (sehingga apabila mereka sampai ke neraka) semuanya. Yakni, tibanya mereka di neraka berarti tibanya waktu pemberian kesaksian.
Syahida ‘alaihim sam’uhum (pendengaran mereka memberikan kesaksian), sebab mereka menggunakannya dalam aneka kemaksiatan kepada Allah. Pemberian kesaksian ini bukan atas kemauan mereka. Maka telinga memberikan kesaksian tentang keburukan yang telah didengarnya.
Wa absharuhum (dan penglihatan mereka) atas perkara haram yang dilihatnya.
Wajuluduhum (dan kulit mereka), yakni lahiriah fisiknya dan kulitnya lantaran telah menyentuh apa yang dilarang.
Bima kanu ya’maluna (tentang apa yang telah mereka kerjakan) di dunia.
Dikatakan: Setiap anggota badan menceritakan perbuatan yang dilakukan oleh pemiliknya, sebab setiap anggota memberitahukan kejahatan yang diketahuinya saja. Ma menunjukkan seluruh perbuatan mereka yang buruk dan aneka kekafiran serta kemaksiatan. Kesaksian terjadi karena Allah membuat anggota badan dapat berbicara, sebagaimana terhadap lisan, sebab secara akliah hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil, sebagaimana Dia membuat pohon dan daging domba panggang yang beracun dapat berbicara. Anggota badan tersebut bersifat memiliki kemampuan dan kehendak.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi saw. tertawa hingga gusinya tampak. Beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak bertanya mengapa aku tertawa?” Mereka bertanya, “Hai Rasulullah, mengapa engkau tertawa?” Beliau bersabda, “Aku kagum pada hamba yang mendebat Allah Ta’ala pada hari kiamat! Hamba itu berkata, ‘Ya Rabbi, bukankah Engkau berjanji tidak akan menzalimiku?’ Allah menjawab, ‘Ya, Aku jamin.’ Hamba berkata, ‘Aku tidak mau menerima saksi kecuali diriku sendiri.’ Allah berfirman, ‘Bukankah Aku cukup sebagai saksi bersama para malaikat penulis amal?’ Hamba berkata, ‘Ya Rabbi, Engkau melindungiku dari kezaliman. Maka aku tidak akan menerima saksi kecuali diriku sendiri.’ Maka dikuncilah mulutnya, lalu anggota badannya menceritakan segala perbuatan yang telah dilakukannya. Tiba-tiba hamba itu berkata kepada anggota tubuhnya sendiri, ‘Keparat kamu, justru aku berdebat itu demi membelamu!’” (HR. Muslim, an-Nasa`I, dan al-Bazar).
Riwayat di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “kulit” ialah anggota badan.

Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami” Kulit mereka menjawab, “Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai  berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. 41 Fushshilat: 21)
            Waqalu lijuludihim (dan mereka berkata kepada kulit mereka) dengan nada mencela.
Lima syahidtum ‘alaina (mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami). Pemakaian bentuk jamak untuk orang berakal tatkala menyapa kulit sebab ada dalam konteks tanya jawab yang biasanya dilakukan di antara orang yang berakal.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a.: Yang dimaksud dengan kesaksian kulit ialah kesaksian kemaluan sebab ia berupa kulit. Kemaluan diungkapkan dengan kulit untuk menjaga kesantunan. Karena itu, “kulit” ditanya secara khusus, Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit menjawab, “Perzinahan yang aku persaksikan lebih besar kejahatan dan keburukannya serta lebih menjerumuskan ke dalam kehinaan dan siksa daripada kejahatan yang aku persaksian melalui pendengaran dan mata.”
Qalu anthaqanallahul ladzi anthaqa kulla syai`in (kulit mereka menjawab, “Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai  berkata), yakni Dia menjadikan kami dapat bertutur dan Dia membuat kami mampu menerangkan realita, lalu kami memberikan kesaksian atas aneka keburukan yang kalian lakukan melalui kami dan apa yang kami sembunyikan.
Wahuwa khalaqakum awwala marratin wa ilaihi turja’una (dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan), sebab Zat yang berkuasa untuk membangkitkan dan mengembalikan kamu kepada pembalasan-Nya, tentu berkuasa pula untuk membuat anggota badanmu dapat berbicara.
Dalam tafsir al-Jalalain dikatakan: Dialah yang telah menciptakan kamu merupakan informasi awal dari Allah Ta’ala, bukan perkataan kulit, sebab Allah Ta’ala telah menciptakan setiap indra dalam keadaan dapat memahami hal-hal tertentu seperti pendengaran memahami suara, lidah untuk mengecap, dan penciuman untuk memahami bau. Pemahaman ini semata-mata diciptakan Allah, bukan karena pengaruh indra. Maka mungkin Dia menciptakan mata  yang dapat mendengar, misalnya, meskipun hal itu tidak pernah terjadi. Demikian pula lisan diciptakan untuk bertutur. Namun, jika Allah berkehendak, maka seluruh anggota badan dapat menjadi lidah. Dalam Hadits ditegaskan, “Setiap perkara dapat menyimak suara mu`adzin, baik benda basah maupun kering, yang akan memberikan kesaksian untuknya di hari kiamat” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa`i).
Kesaksian ini bersifat menuturkan saja, bukan atas dasar ilmu dan akal. Karena itu, hendaklah hamba waspada terhadap kesaksian anggota badan, tempat, dan masa.
Diriwayatkan dari ‘Ala` bin Ziyad, dia berkata, “Tiada hari dunia yang muncul melainkan ia berkata, ‘Hai manusia, aku adalah hari yang baru dan aku menjadi saksi atas apa yang dilakukan pada hari itu. Jika matahariku terbenam, aku tidak akan pernah kembali menemuimu hingga kiamat.’”

Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 41 Fushshilat: 22)
            Wama kuntum tastatiruna ayyasyhada ‘alaikum sam’ukum wala absharukum wala juludukum (kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu). Ayat ini menceritakan apa yang akan dikatakan Allah Ta’ala kepada musuh-musuh-Nya pada hari kiamat dengan nada mencela dan mencerca. Penggalan ini menguatkan jawaban yang diberikan kulit.
            Makna ayat: Kamu tidak dapat bersembunyi di dunia tatkala melakukan keburukan karena khawatir anggota badanmu akan memberikan kesaksian, sebab ia merupakan benda bisu yang tidak dapat bertutur, dan apa yang kalian jumpai, benar-benar di luar dugaanmu, sebagaimana kamu sekarang bersembunyi di balik dinding, benteng, dan pekatnya malam agar tidak diketahui manusia. Bahkan kalian mengingkari ba’ats dan balasan secara penuh, apalagi mempercayai adanya kesaksian anggota badan.
            Ayat di atas mengingatkan bahwa selayaknya seorang mu`min menyadari secara penuh bahwa tiada suatu kondisi yang dilalui melainkan dia diawasi malaikat raqib; bahwa Allah menyertainya di mana pun dia berada.
            Dikatakan: Barangsiapa yang tidak ingat akan kesaksian anggota badan tatkala dia melakukan dosa, maka dia akan berani berbuat dosa. Barangsiapa yang ingat, mungkin dia akan beroleh perlindungan dan taufik sehingga mengurungkannya.
            Walakin zhanantum (bahkan kamu mengira) tatkala kamu bersembunyi.
Annallaha la ya’lamu katsiram mimma ta’maluna (bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan) berupa keburukan yang tersembunyi. Kalaulah hal itu terjadi, kamu mengira kesalahan tadi tidak akan diungkapkan, sehingga kamu berani berbuat dosa. Kata “banyak” dimasukkan dalam la ya’lamu katsiran, sebab mereka menduga bahwa Allah hanya mengetahui perkara yang nyata, tidak yang samar.
            Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a., dia berkata, “Aku bersembunyi di balik Ka’bah. Tiba-tiba datanglah tiga orang: dua orang suku Tsaqif dan seorang suku Quraisy, atau dua orang Quraisy satu orang Tsaqif. Mereka berperut gendut dan berhati bebal. Yang satu bertanya,  “Apakah menurutmu Allah mendengar apa yang kami katakan?” Yang lainnya berkata, “Dia mendengar, jika kita berkata keras dan tidak mendengar, jika berkata perlahan.” Kemudian aku menceritakan kejadian ini kepada Nabi saw. Maka turunlah ayat, Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi…Dengan demikin, hukum yang dikemukakan hanya berlaku bagi orang kafir yang memiliki kepercayaan semacam itu.

Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 41 Fushshilat: 23)
            Wa dzalikum (dan yang demikian itu), yakni sangkaanmu, wahai musuh.
Zhannukumul ladzi zhanantum birabbikum (adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu), sebab kenyataannya Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui seluruh perkara bersifat menyeluruh dan rinci; Maha Melihat segala yang tampak dan yang tersembunyi.
Ardakum (prasangka itu telah membinasakan kamu) dan melemparkanmu ke neraka.
Fa`ashbahtum (maka jadilah kamu), karena sangkaan buruk yang telah membinasakanmu itu.
Minal khasirina (termasuk orang-orang yang merugi), sebab kekuatan akal dan sarana anggota badan yang dianugrahkan Allah menjadi penyebab kesengsaraanmu di dunia dan akhirat. Hal itu menjadi penyebab kesengsaraan di akhirat, sudahlah jelas, sedangkan keberadaannya sebagai penyebab kecelakaan di dunia adalah dilihat dari keberadaannya yang tidak memfungsikan srana itu sesuai haknya, karena salah pilih,  sehingga membuatnya bodoh akan Allah dan sifat-sifat-Nya, memperturutkan syahwat, dan melakukan maksiat.
Dalam Bahrul ‘Ulum dikatakan: Minal khasirin berarti yang sempurna kerugiannya, sehingga kamu berprasangka buruk terhadap Allah. Berprasangka buruk kepada-Nya merupakan salah satu dosa besar seperti halnya cinta dunia.
Al-Hasan rahimahullah berkata: Suatu kaum dilalaikan oleh aneka angan-angannya, hingga mereka meninggalkan dunia tanpa kebaikan. Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku berbaik sangka kepada Tuhanku.” Namun, dia didustakan. Kalaulah berbaik sangka, niscaya dia beramal saleh.
Dugaan ada dua. Pertama, dugaan yang menyelamatkan, yaitu yang disertai dengan keyakinan yang baik dan amal saleh. Kedua, dugaan yang membinasakan, yaitu yang tidak disertai dengan keyakinan yang baik dan amal saleh. Maka kita perlu berupaya melakukan amal kebaikan.

Jika mereka bersabar,  maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya. (QS. 41 Fushshilat: 24)
            Fa`in yashbiru (jika mereka bersabar) menghadapi azab dalam neraka, dan tidak meminta tolong dan tidak berkeluh-kesah dari apa yang dialaminya sambil menunggu jalan keluar dengan menduga bahwa sabar merupakan kunci keberhasilan …
            Fannaru matswan lahum (maka nerakalah tempat diam mereka) yang abadi, sehingga tidak dapat melepaskan diri darinya. Maka kesabaran mereka tidak berguna.
Wa`iyyasta’tibu (dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan), yakni kembali kepada keluhan-keluhan yang disukainya atas apa yang dideritanya…
Fama hum minal mu’tabina (maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya), yang ditanggapi keluh-kesahnya. Jadi, sama saja apakah mereka bersabar atau tidak, mereka tidak dapat melepaskan diri dari neraka. Penggalan ini senada dengan firman Allah Ta’ala, Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah kita bersabar (Ibrahim: 21).

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. (QS. 41 Fushshilat: 25)
            Waqayyadlna lahum (dan Kami tetapkan bagi mereka), yakni di dunia Kami memberikan kekuasaan dan kemampuan bagi orang kafir.
Qurana`a (teman-teman), yakni Kami menjadikan sebagian setan manusia dan jin sebagai teman yang menguasai kaum kafir seperti kulit telur membungkus isinya.
Fazayyanu lahum ma baina aidihim (yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan mereka) berupa aneka urusan dunia dan syahwat.
Wama khalfahum (dan di belakang mereka) berupa urusan akhirat, sehingga mereka berpendapat bahwa tidak ada ba’ats, hisab, dan hal-hal yang tidak disukai. Allah menjadikan urusan dunia di hadapan mereka. Namun, tatkala akhirat terjadi setelah ini, maka akhirat ditempatkan di belakang mereka. Demikianlah tuntutan pengamatan menurut urutan keberadaannya.
Ada pula yang menfasirkan ma baina aidihim dengan akhirat, sebab ia berada di depan mereka dan mereka menuju ke sana, sedangkan wama khalfahum ditafsirkan dengan dunia, sebab mereka meninggalkannya di belakang.
Al-Junaid berkata: Nafsu tidak pernah familier dengan kebenaran.
Ibnu ‘Atha berkata: Nafsu merupakan teman setan, sahabatnya, dan pengikut apa yang ditunjukkannya serta menjauhi kebenaran dan menyalahinya. Ia tidak menyukai kebenaran dan tidak mengikutinya.
Wahaqqa ‘alaihimul qaulu  (dan tetaplah atas mereka keputusan azab), yakni tetaplah keputusan azab atas mereka dan perwujudan akibatnya. Penggalan ini senada dengan firman Allah Ta’ala, Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya (Shad: 85) dan ayat lainnya.
Fi umamin (pada umat-umat), yakni mereka berasal dari segolongan umat. Ada pula yang menafsirkan beserta umat-umat. Hal ini tampak jelas bahwa yang dimaksud ialah musuh-musuh Allah seperti telah dikemukakan, yaitu kaum ‘Ad dan Tsamud, bukan kaum kafir terdahulu dan yang kemudian.
Qad khakat min qablihim minal jinni wal insi (yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia) dalam menganut kekafiran dan kemaksiatan seperti perilaku kaum kafir terdahulu.
Innahum kanu khasirina (sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi). Inilah alasan mengapa mereka berhak mendapat azab. Hum merujuk kepada kaum terdahulu dan yang kemudian.
Dalam Kasyful Asrar dikatakan: Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia mengikatkannya dengan teman-teman yang baik yang membantu dan menyerunya dalam melakukan ketaatan. Bila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba, Dia mengikatkannya dengan teman-teman jahat yang mendorong dan menyerunya ke dalam perkara yang ditakuti. Di antara teman itu adalah setan yang menguasai manusia dengan bisikan. Yang lebih buruk daripada setan ialah nafsu yang menyuruh kepada keburukan serta menyerukan kepada kebinasaan dirinya dan kebinasaan hamba. Kelak ia akan memberikan kesaksian yang memberatkannya.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala kiranya Dia menjadikan kita orang-orang yang beruntung, bukan yang merugi; menolong kita dalam melawan nafsu, iblis, dan berbagai bentuk setan. 

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan. (QS. 41 Fushshilat: 26)
            Waqalal ladzina kafaru (dan orang-orang yang kafir berkata) dari kalangan pemuka Qurasiy, kepada keturunan dan teman-temannya yang jahat. Atau sebagian mereka berkata kepada yang lain.
La tasma’u lihadzal qur`ani (janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur'an ini), janganlah kamu berniat untuk mendengarnya.
Walghau fihi (dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya). Tuturan yang disebut laghwun ialah yang tidak bermakna yaitu perkataan yang tidak melalui periwayatan dan pemikiran, sehingga ia seperti suara burung. Makna ayat: Mereka melontarkan tuturan-tuturan batil yang tidak bermanfaat terhadap al-Quran, serta menandinginya dengan khurafat, yaitu ungkapan dan cerita yang tidak berdasar seperti kisah Rustam dan Isfandiar, juga dengan menciptakan puisi dan nadzam, bertepuk tangan, bersiul, dan bersuara gaduh guna mengacaukan si pembaca sehingga apa yang dibacanya menjadi tidak karuan.
La’allakum taghlibuna (supaya kamu dapat mengalahkan) al-Quran yang dibacanya, lalu dia meninggalkannya serta pendengar pun tidak dapat menyimaknya. Tujuan mereka untuk membuat kekeliruan dan kekacauan. Mereka khawatir kalaulah manusia menyimaknya tentu akan beriman kepadanya. Inilah perilaku Abu Jahal dan teman-temannya.

Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-oramg kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 41 Fushshilat: 27)
            Falanudziqannal ladzina kafaru (maka sesungguhnya Kami akan merasakan kepada orang-oramg kafir). Demi Allah, Kami akan merasakan kepada orang yang berkata demikian dan yang membuat keributan, atau terutama kepada seluruh kaum kafir.
            ‘Adzaban syadidan (azab yang keras) yang kadarnya tidak terperi sebagaimana makna ini ditunjukkan oleh bentuk nakirah dan sifat. Penggalan ini merupakan ancaman yang keras, sebab kata merasakan biasanya digunakan untuk kadar yang minim yang dilakukan sekedar mencoba. Jika merasakan kadar yang sedikit itu berupa azab yang keras, apalagi jika azab yang banyak.
Walanajziyannahum aswa`alladzi kanu ya`maluna (dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan) sebagai balasan atas amal mereka yang buruk. Jika amal mereka sangat buruk, demikian pula balasannya. Ungkapan sangat buruk bertujuan meluaskan ungkapan secara umum. Penyandaran keburukan kepada apa yang mereka lakukan adalah bertujuan menerangkan dan mengkhususkan.
Ibnu Abbas menafsirkan: Azab yang keras pada Peristiwa Badar dan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan di akhirat.

Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (QS. 41 Fushshilat: 28)
Dzalika jaza`u a’da`illahi annaru (demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, yaitu neraka), yakni balasan yang disiapkan untuk mereka adalah neraka.
Lahum fiha darul khuldi (mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya). Nereka itu sendiri merupakan tempat mereka menetap. Mereka tidak akan berpindah dari sana. Maksudnya, mereka memperoleh neraka berikut berbagai dasarnya sebagai tempat tinggal abadi yang dikhususkan bagi mereka.
Jaza`am bima kanu bi`ayatina yajhaduna  (sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami), yakni mereka dibalas karena keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami yang haq atau karena mereka membuat kegaduhan terhadapnya.

Dan orang-orang kafir berkata, “Ya Tuhan kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami yaitu sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”. (QS. 41 Fushshilat: 29)
            Waqalal ladzina kafaru (dan orang-orang kafir berkata), yakni mereka yang bergelimang dalam azab berkata …
Rabbana arinal ladzaini adhallana minal jinni wal insi (ya Tuhan kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami yaitu sebagian dari jin dan manusia), yakni perlihatkanlah kepada kami dua jenis setan yang menyeret kami kepada kesesatan melalui bisikan dan penciptaan keindahan, yaitu setan jin dan manusia, sebab setan itu terdiri atas jenis dan manusia sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, setan manusia dan jin dan ditegaskan oleh firman-Nya, dari golongan jin dan manusia.
Dikatakan: Setan jenis manusia ialah Khabil bin Adam yang telah mentradisikan pembunuhan tanpa haq, sedangkan setan dari jenis jin telah menciptakan tradisi kekafiran dan kemusyrikan. Dengan demikian, adhallana berarti telah menciptakan tradisi kekafiran dan kemaksiatan bagi kami. Tafsiran ini dikuatkan dengan Hadits marfu, Tiada seorang Muslim yang dibunuh secara zalim melainkan Qabil bin Adam menanggung tetesan darahnya karena dialah yang mentradisikan pembunuhan (HR. Tirmidzi, Nasa`I, dan Ibnu Majjah).
Naj’aluhuma tahta aqdamina (agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami) sebagai hukuman bagi keduanya.
Liyakuna minal asfalin (supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina) dan rendah. Atau Kami menjadikan keduanya dalam dasar neraka yang paling rendah sebagai penuntut balas agar keduanya menjadi orang-orang yang paling bawah kedudukannya dan yang lebih berat azabnya daripada kami.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan  surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. 41 Fushshilat: 30)
Innalladzina qalu rabbunallah (sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”) sebagai pengakuan atas ketuhan-Nya dan keesan-Nya.
Tsummas taqamu (kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka), yakni kokoh dalam pengakuan Rabb kami adalah Allah berikut aneka tuntutannya, sehingga kaki mereka tidak tergelincir dari jalan penghambaan, baik dengan hati atau dengan raga, serta tidak melampauinya. Maka termasuk ke dalam penghambaan ini seluruh ibadah dan keyakinan secara berkesinambungan hingga wafat. Keistiqamahan manusia berarti ketetapannya di jalan yang lurus. Termasuk istiqamah ialah seseorang tidak melihat manfaat dan madarat kecuali dari Allah, tidak berharap kepada siapa pun kecuali kepada Allah, dan tidak takut kecuali kepada Allah.
Diriwayatkan dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi r.a. Aku berkata, “Hai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu perkara untuk menjaga diri.” Beliau bersabda, “Bacalah, rabbiyallahu tsummastaqim”. Aku bertanya, “Apa yang paling engkau khawatirkan dariku?” Kemudian Rasulullah saw. memegang lidahnya sendiri seraya berkata, “Ini” (HR. Ahmad, Tirmidzi, an-Nasa`I, dan Ibnu Majah).
Apabila al-Hasan membaca ayat ini, dia berkata, “Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami. Maka anugrahkanlah kepada kami istiqamah.”  
Tatanazzalu ‘alaihimul mala`ikatu (maka malaikat akan turun kepada mereka) dari sisi Allah Ta’ala, yang menawarkan aneka bantuan berkenaan dengan urusan agama dan dunia, yang dapat melapangkan qalbu mereka dan melenyapkan kekhawatiran dan kesedihan dari mereka melalui ilham. Sebalikanya kaum kafir diberi teman-teman buruk yang mengikat dan menjadikan keburukan sebagai keindahan. Demikian pula malaikat turun saat mati dengan membawa berita gembira, juga ketika berada dalam kubur dan dibangkitkan, yaitu saat keluar dari kubur.
 Alla takhafu (janganlah kamu merasa takut). Malaikat turun dengan membawa berita gembira, yaitu “Janganlah mengkhawatirkan perkara akhirat. Kamu takkan melihat sesuatu yang tidak disukai.” Ditafsirkan demikian karena takut berarti kebingungan yang dialami karena mengkhawatirkan keburukan yang akan menimpa.
Wala tahzanu (dan janganlah kamu merasa sedih) karena telah meninggalkan keluarga dan anak karena Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Di surga Dia akan memberimu yang lebih banyak dan lebih baik daripada itu. Dia akan menyatukanmu dengan istri dan anak-anakmu serta anak-anak Kaum Muslimin lainnya.
Wa absyiru biljannatillati kuntum tu’aduna (dan bergembiralah kamu dengan  surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu) di dunia melalui para rasul. Inilah salah satu tempat di mana mereka mendapat berita gembira.
Tsabit berkata: Kami menerima berita bahwa apabila bumi terbelah pada hari kiamat, orang Mu`min melihat kedua malaikat yang menjaganya, yang berdiri dekat kepalanya. Maka keduanya berkata, “Janganlah takut dan jangan bersedih, tetapi bergembiralah karena kamu akan meraih surga yang telah dijanjikan. Pada hari ini kamu akan melihat aneka perkara yang tidak pernah kamu lihat. Janganlah kamu takut, sebab kengerian itu bagi orang selainmu.”

Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh  di dalamnya apa yang kamu minta. (QS. 41 Fushshilat: 31)
Nahnu auliya`ukum filhayatid dunya (Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia). Ini salah satu berita gembira untuk mereka di dunia. Makna ayat: Kami adalah penolong-penolongmu dalam berbagai persoalan; kami mengilhamkan kebenaran kepadamu dan membimbingmu kepada sesuatu yang membuahkan kebaikan dan kemaslahatan bagimu. Mungkin hal itu merupakan ungkapan hati orang Mu`min yang senantiasa melakukan ketaatan, yang terungkap berkat taufik dan pertolongan Allah melalui perantaraan malaikat.
Wafil akhirati (dan di akhirat) kami membantumu dengan syafa’at dan memberimu kemuliaan pada saat terjadi permusuhan dan pertengkaran antara kaum kafir dan “teman-temannya”.
Walakum (dan kamu memperoleh), sedang musuh-musuhmu tidak.
Fiha (di dalamnya), yakni di akhirat.
Ma tasytahi anfusukum (apa yang kamu inginkan) dari aneka kelezatan.
Walakum fiha ma tadda’una (dan kamu memperoleh  di dalamnya apa yang kamu minta), yang kalian inginkan. Penggalan ini lebih umum daripada penggalan   sebelumnya, sebab tidak setiap yang diminta itu diinginkan. Orang sakit, misalnya, tidak menghendaki sesuatu yang membahayakan penyakitnya.

Sebagai hidangan  dari  Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 41 Fushshilat: 32)
Nuzulan (sebagai hidangan), yakni rizki yang keadaannya …
Min ghafurin (dari  Yang Maha Pengampun) terhadap dosa-dosa yang besar; yang mengganti aneka keburukan dengan kebaikan.
Rahimin (lagi Maha Penyayang) kepada Kaum Mu`minin pelaku ketaatan dengan menambah derajat dan kedekatan. Seolah-olah dikatakan: Tetaplah bahwa di akhirat kamu memperoleh apa yang kamu pinta, yang keadaannya seperti hidangan bagi tamu. Adapun keadaan kemuliaan yang kamu raih tidak pernah terbetik dalam hati, apalagi diinginkan.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. 41 Fushshilat: 33)
Waman ahsanu qaulam mimman da’a ilallahi (siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah), kepada mengesakan dan menaati-Nya.
Wa ‘amila shalihan (dan mengerjakan amal yang saleh) berkenaan dengan hubungan antara dirinya dan Tuhannya.
Waqala innani minal muslimina (dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”). Inilah ungkapan kebanggaan menjadi bagian dari Kaum Muslimin, atau karena menjadikan Islam sebagai agama dan cara hidup, sebab ketaatan tidak diterima tanpa Dinul Islam. Penggalan ini senada dengan hadza qaulu fulanin, yang berarti ini adalah madzhab si Fulan, sebab dia berkata demikian. Penggalan ini membantah orang yang berkata, “Aku muslim, insya Allah”, sebab Allah berfirman secara mutlak, tidak dikaitkan dengan syarat insya Allah.
Para ulama ahli kalam berkata: Jika ungkapan itu dilontarkan karena keraguan, dia pasti kafir. Jika dilontarkan demi menjaga kesantunan terhadap Allah dan penyerahan perkara kepada kehendak-Nya, atau karena keraguan atas akibat dan hasil akhirnya, bukan keraguan saat di dunia ini, atau karena ingin mendapatkan berkah dengan menyebut nama Allah, atau untuk menghindari sikap sok suci dan kagum dengan keadaan dirinya, maka pengucapan insya Allah dibolehkan. Namun, sebaiknya ditinggalkan karena mengesankan keraguan.
Hukum ayat itu meliputi seluruh ungkapan terpuji berupa dakwah, amal, dan perkataan, walaupun ia diturunkan berkenaan dengan Rasulullah saw., atau para sahabatnya, atau mu`adzin yang mengajak orang untuk shalat.
Dipersoalkan: Para ulama sepakat bahwa seluruh surat ini diturunkan di Mekah, padahal azan disyari’atkan di Madinah. Dijawab: Hukum pada ayat ini diberlakukan kemudian. Betapa banyak ayat al-Qur`an yang hukumnya ditetapkan kemudian. Pandangan ini dianut oleh para ahli qira`at, di antaranya Ibnu Hajar dan selainnya.
Ketahuilah bahwa dakwah terdiri atas beberapa martabat.
Pertama, dakwah para nabi. Mereka menyeru manusia kepada Allah melalui aneka mu’jizat, dalil, dan pedang. Ayat di atas menunjukkan bahwa perkataan yang paling baik ialah yang diucapkan para nabi dan wali, yang mengajak makhluk kepada Allah. Dakwah demikian dikhususkan kepada Nabi saw. Allah Ta’ala berfirman,
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, serta untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi (al-Ahzab: 45).
Dan pada surat ini Allah berfirman, dan beramal saleh. Yakni, sebagaimana dia mengajak makhluk kepada Agama Allah, dia pun mengajak mereka beramal karena-Nya.
Kedua, dakwah para ulama. Mereka mengajak kepada agama Allah dengan hujah dan argumentasi saja. Kemudian ulama itu ada tiga: Ulama yang mengetahui Allah, ulama yang mengetahui perintah Allah, dan ulama yang mengetahui Allah dan perintah-Nya.
Ketiga, dakwah dengan pedang. Dakwah ini dilakukan oleh penguasa yang memerangi kaum kafir hingga mereka masuk ke dalam agama Allah dan menaati-Nya.
Keempat, dakwah mu`adzin supaya shalat. Inilah peringkat dakwah yang paling lemah, sebab pengungkapan kalimat-kalimat adzan, meskipun mengajak manusia supaya shalat, tetapi mu`adzin menuturkan kalimat-kalimat yang mulia itu tanpa memahami maknanya dan tidak bertujuan berdakwah. Jika mereka tidak peduli atas upah sebagai mu`adzin, memelihara syarat azan, baik yang tersirat maupun tersurat, dan memiliki tujuan yang benar, maka mu`adzin seperti pelaku dakwah lainnya. Nabi saw. bersabda, “Mu`adzin merupakan para penyelamat shalat, shaum, daging, dan darah Kaum Mu`minin. Tidaklah mereka meminta sesuatu kepada Allah melainkan Dia memberinya. Mu’adzin diampuni dosanya sepanjang jangkauan suaranya (HR. Thabrani dan al-Baihaqi). Dalam Hadits lain dikatakan, “Mu`adzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat” (HR. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah). Yakni, mereka menjadi para pemuka dan manusia yang paling banyak pahalanya. Tatkala orang lain dirundung kedukaan, para mu`adzin menjadi manusia yang paling besar harapannya untuk diizinkan masuk surga.
Para fuqaha berkata: Orang yang mendengar azan hendaknya menghentikan pekerjaan yang dilakukannya dengan tangan, kaki, dan mulut, termasuk membaca al-Qur`an, jika dia berada di luar mesjid. Jika berada di dalam mesjid, dia tidak perlu menghentikannya. Hendaknya dia menjawab seruan mu`adzin. Para ulama berikhtilaf mengenai apakah menimpali adzan itu wajib atau sunat. Yang lain menetapkan kewajiban menimpali adzan dan iqamat, sedang yang lain memandangnya sunat. Setelah adzan, bacalah doa berikut,
Ya Allah, pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad wasilah, keutamaan, dan derajat yang tinggi, dan bangkitkanlah di pada maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.
Khusus setelah azan maghrib, bacalah doa berikut,
Ya Allah, kini malam-Mu telah datang, hari-Mu telah berlalu, dan seruan-seruan-Mu dikumandangkan, maka ampunilah Aku.
 Orang yang pertama kali adzan dalam Islam ialah Bilal al-Habsyi r.a. Yang pertama kali disyari’atkan adalah adzan subuh. Pada adzan subuh Bilal menambah dengan ashlatu khairum minan naumi dua kali setelah membaca dua seruan. Orang yang iqamat ialah yang azan, kecuali dia mengizinkannya. Orang yang pertama kali menambah azan Jum’at ialah Utsman bin ‘Affan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi tahu orang-orang yang ada di pasar agar pergi ke mesjid. Pada zaman Nabi saw., Abu Bakar, dan Umar, azan hanya dilakukan sekali, yaitu saat beliau duduk di mimbar.
Azan wajib dikeraskan guna memberi tahu manusia. Karena itu dianjurkan agar azan dilakukan di tempat tinggi. Jika azan untuk diri sendiri, tidak perlu dikeraskan. Mu`azin meninggikan suara takbir intiqal dalam shalat guna menyampaikan takbir imam kepada ma’mum yang jauh dari imam. Jika suara imam sudah cukup keras, maka makruh bagi muazin mengraskan takbir intiqal. 

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah  dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. 41 Fushshilat: 34)
Wala tastawil hasanatu walas sayyi`atu (dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan). Penggalan ini menerangkan amal yang baik yang ada antara hamba dan Tuhannya, guna memotivasi Rasulullah saw. agar bersabar dalam menghadapi gangguan kaum mausyrikin dan perkataan mereka yang buruk. Makna ayat: janganlah menyamakan balasan dan akibat baik perkara yang buruk dan perkara yang baik, sebab jika kamu bersabar terhadap gangguan mereka, kebodohannya, tidak membalas mereka, dan tidak menghiraukan kebodohan mereka, niscaya kamu diagungkan di dunia dan mendapat pahala di akhirat, sedangkan mereka mendapatkan kebalikannya. Tampilnya mereka atas keburukan tersebut jangan sampai menghalangimu untuk melakukan kebaikan di atas.
Jika Anda menafsirkan al-hasanah dan as-sayyi`ah sebagai jenis, maka ayat itu bermakna: tidaklah sama kebaikan-kebaikan itu, sebab kebaikan itu sendiri berbeda-beda seperti dahan keimanan yang terendahnya adalah membuang gangguan dari jalan. Aneka keburukan juga tidak sama karena berbeda-beda dilihat dari segi besar kecilnya. Penambahan la yang kedua pada penggalan di atas bukanlah untuk menguatkan negasi.
Idfa’ billati hiya ahsanu (tolaklah  dengan cara yang lebih baik). Penggalan ini menjelaskan akibat baik dari kebaikan. Makna ayat: balaslah keburukan yang ditimpakan oleh musuhmu kepadamu dengan kebaikan terbaik yang dapat kamu lakukan. Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk merupakan merupakan kebaikan yang lebih baik daripada memaafkan. Nabi saw. bersabda, Bersilaturahmilah kepada orang yang memutuskan hubungan denganmu, maafkanlah orang yang menzalimimu, dan berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu (HR. Ibnu an-Najar). Nabi saw. tidak disuruh mengerjakan hal lain kecuali membalas keburukan dengan kebaikan, sebab jika dia telah membalas dengan kebaikan, maka mudahlah baginya untuk membalas perlakuan mereka yang lebih buruk lagi.
Fa`idzal ladzi bainaka wa bainahu ‘adawatun ka`annahu waliyyun hamimun (maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia). Penggalan ini menerangkan hasil dari cara pembalasan di atas. Makna ayat: Jika kamu melakukan itu, maka musuh yang semula menentangmu menjadi teman setiamu.
Diriwayatkan bahwa ayat di atas berkenaan dengan Abu Sufyan bin Harb. Dia menjadi sangat lunak kepada Kaum Muslimin setelah sebelumnya bersikap garang, karena adanya kaitan pernikahan antara dia dan Nabi saw. Kemudian dia masuk Islam, sehingga dia menjadi pembela Islam dan penyayang kepada kerabat.
Al-Baqili berkata: Di sini Allah menerangkan bahwa akhlak yang baik tidak sama dengan akhlak yang buruk. Dia menyuruh kita mengganti akhlak yang tercela dengan akhlak yang terpuji. Akhlak yang paling mulia ialah hilim, sebab dengan kehiliman, musuh menjadi teman dan yang jauh menjadi dekat tatkala dia membalas kemarahannya dengan kehiliman, kezalimannya dengan ampunan, dan keburukannya dengan kemurahan. 

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. 41 Fushshilat: 35)
            Wama yulaqqaha (sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan), yakni tidaklah perkara dan perilaku pembalasan keburukan dengan kebaikan itu …
Illalladzina shabaru (melainkan kepada orang-orang yang sabar), yakni yang berperilaku sabar sebab kesabaran dapat menahan nafsu dari membalas.
Wama yulaqqaha illa dzu hazhzhin ‘azhimin (dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar) berupa keutamaan jiwa dan kekuatan ruhaniah, sebab kesibukan dalam membalas dendam hanyalah disebabkan kelemahan jiwa. Ringkasnya, kita mesti menyucikan jiwa. Ayat di atas memuji Kaum Mu`minin yang bersabar. Al-hazh berarti perolehan tertentu.

Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 41 Fushshilat: 36)
Wa`imma yanzhaghannaka minasy syaithani nazghun (dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan). Nazghun sejenis tusukan yang mengejutkan. Bisikan setan diserupakan dengannya sebab bisikan itu mendorong kepada keburukan dan menggerakkan manusia kepada sesuatu yang tidak semestinya. Makna ayat: jika setan membisikanmu dan membelokkanmu dari pembalasan keburukan dengan kebaikan seperti yang diperintahkan serta mendorongmu supaya melakukan kebalikannya …
Fasta’idz billahi (maka mohonlah perlindungan kepada Allah) dari kejahatan setan dan janganlah menaatinya.
Innahu huwas sami’u (sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar) permohonanmu supaya dilindungi.
Al-‘alimu (lagi Maha Mengetahui) niatmu. Meninggalkan pembalasan dengan yang lebih baik dipandang sebagai akibat bisikan-bisikan setan dimaksudkan supaya lebih waspada terhadap bisikan-bisikan setan, lalu mintalah perlindungan kepada Allah dari godaannya, janganlah membiarkannya mencapai qalbu. Seorang hamba tidak terlepas dari aneka bisikan setan kecuali dengan memohon pertolongan yang tulus kepada Allah dan ikhlash dalam beribadah. Allah berfirman,
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka (al-Hijr: 42).
Jika hamba semakin berlepas diri dari upaya dan kekuatannya serta berserah diri kepada kekuasaan Allah dengan tawadhu dan permintaan tolong, maka Allah semakin memelihara dia dan mengusir setan dari dirinya.
Dalam Hadits ditegaskan,
Tiada seorang pun di antara kamu melainkan disertai teman jin dan teman malaikat. Para sahabat bertanya, “Engkau juga, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Juga aku, tetapi Allah membantuku dalam mengalahkannya, sehingga dia menyerah. Maka dia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan” (HR. Muslim).
Setan  yang tunduk (masuk Islam) hanyalah setan yang menemai Nabi saw.

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah  kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. 41 Fushshilat: 37)
            Wamin ayatihil lailu wannaharu (dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang). Imam al-Marzuqi berkata: Malam berpasangan dengan siang, demikian pula sebaliknya.
            Wassyamsu wal qamaru (matahari dan bulan), yakni silih bergantinya malam dan siang dengan cara yang menimbulkan manfaat dan maslahat bagi makhluk. Tunduknya matahari dan bulan kepada tujuan penciptaannya merupakan salah satu tanda yang yang menunjukkan dengan jelas akan adanya Allah Ta’ala, keesaan-Nya, dan kesempurnaan ilmu serta hikmah-Nya.
La tasjudu lisysyamsi wala lilqamari (janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah  kepada bulan), sebab keduanya merupakan makhluk yang takluk kepada perintah-Nya seperti halnya kamu.
Wasjudu lillahilladzi khalaqahunna  (tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya). Hunna merujuk kepada empat  hal di atas yang kesemuanya termasuk kelompok yang tidak berakal dan diperlakukan sebagai muannats.
Inkuntum iyyahu ta’buduna  (jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah), yakni jika kamu menyembah kepada-Nya, janganlah bersujud kepada selain-Nya, sebab sujud merupakan peringkat ibadah yang paling tinggi, sehingga mesti dipersembahkan bagi Allah Ta’ala. Adalah sebagian manusia bersujud kepada matahari dan bulan, seperti Shabi`in yang menyembah planet-planet. Mereka mengatakan bahwa bersujud kepada matahari dan bulan maksudnya bersujud kepada Allah. Mereka dilarang membuat perantaraan dan bersujud kecuali kepada Allah yang telah menciptakan segala perkara.
Dipersoalkan: Mengapa matahari tidak boleh dijadikan kiblat manusia saat bersujud? Maka dijawab: Sebab ia merupakan jauhar yang bercahaya, besar, tinggi, dan memiliki banyak manfaat bagi kemaslahatan makhluk. Jika ia diizinkan menjadi kiblat dalam shalat sehingga orang menghadap, ruku, dan sujud ke arah matahari, niscaya timbul kesan dominan bahwa ruku dan sujud itu kepada matahari, bukan kepada Allah. Berbeda dengan beberapa batu tertentu yang jika dijadikan sebagai kiblat, ia tidak menimbulkan adanya kesan ketuhanan seperti halnya matahari.   

Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka  yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. (QS. 41 Fushshilat: 38)
            Fa`inistakbaru (jika mereka menyombongkan diri) sehingga tidak mau melaksanakan perintahmu, yaitu meninggalkan sujud kepada selain Allah dan menolak untuk meninggalkan perantara, hal itu tidak mengurangi jumlah orang yang memurnikan penghambaannya kepada Allah Ta’ala.
Falladzina ‘inda rabbika  (maka mereka  yang di sisi Tuhanmu), yakni para malaikat yang berada dekat di sisi Allah …
Yusabbihuna lahu (bertasbih kepada-Nya), mensecikan-Nya dari sekutu dan dari berbagai perkara yang tidak layak bagi-Nya.
Billaili wannahari (di malam dan siang hari), yakni sepanjang waktu. Malaikat disebutkan secara khusus, padahal ada hamba lain yang beribadah dengan ikhlas, adalah karena banyaknya jumlah mereka.
Wahum la yas`amuna  (sedang mereka tidak jemu-jemu), yakni mereka tidak henti-henti dan tidak bosan bertasbih serta beribadah. Bagi malaikat bertasbih seperti bernafas bagi manusia.

Dan sebagian dari tanda-tanda-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan muncul. Sesungguhnya  Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 41 Fushshilat: 39)
            Wamin ayatihi (dan sebagian dari tanda-tanda-Nya), yakni tanda kekuasaan Allah Ta’ala.
Annaka (bahwa kamu), Muhammad atau orang yang dapat melihat.
Taral ardha khasyi’atun (melihat bumi itu kering tandus), kering, dan tidak berpepohonan. Makna ini dipinjam dari makna khusyu  berupa kehinaan. Tanah yang kering dan tidak memiliki kebaikan serta berkah diserupakan dengan manusia yang khusyu, hina, dan telanjang serta tidak memiliki manfaat karena kerendahannya.
Fa`idza anzalna ‘alaihal ma`ahtazzat (maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak), yakni menggeliatkan tumbuh-tumbuhan.
Warabat (dan muncul), yakni mekar sebab jika tumbuhan menjelang mucul, maka tanah menyembul dan terbuka lalu tumbuhan membelah tanah.
Innalladzi ahya`a  (sesungguhnya Yang menghidupkannya) dengan cara seperti itu, setelah bumi itu mati. Yang dimaksud dengan hidupnya bumi ialah kesuburannya dengan berbagai jenis tumbuhan.
 Lamuhyil mauta (tentu dapat menghidupkan yang mati) melalui ba’ats.
Innahu ‘ala kulli sya`in  (sesungguhnya Dia, atas segala sesuatu) yang di antaranya menghidupkan.
Qadirun (Maha Kuasa), yakni sangat berkuasa. Allah telah menjanjikan hal itu. Maka janji itu pasti penuhi. Hikmah dari menghidupkan ialah untuk membalas dan memenuhi imbalan.

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat. Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 41 Fushshilat: 40)
            Innalladzina yulhiduna (sesungguhnya orang-orang yang mengingkari). Asal makna al-ilhad ialah kecenderungan dan keberpalingan secara mutlak seperti halnya al-lahdu  yang diartikan liang lahat karena berada pada sisi qubul. Kemudian kata ini digunakan dengan makna penyimpangan dari kebenaran kepada kebatilan. Makna ayat: Mereka berpaling dari keistiqamahan.
            Fi ayatina (terhadap ayat-ayat Kami) dengan mecelanya dan mengatakannya sebagai kebohongan, sihir, atau syair; dan dengan mengubahnya serta menafsirkannya secara batil.
La yahkfauna ‘alaina  (mereka tidak tersembunyi dari Kami), maka mereka dibalas atas keingkarannya. Kemudian Allah mengingatkan ihwal pembalasan mereka. Dia berfirman,
Afaman yulqa finnari (maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka) dengan posisi muka di bawah …. Mereka terdiri atas berbagai jenis orang kafir.
Khairun am man ya`ti aminan (lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa) dari api neraka …
Yaumal qayamati (pada hari kiamat), yaitu mereka yang beriman dengan berbagai peringkatnya. Allah membandingkan antara orang yang dilemparkan ke neraka dengan orang yang datang dalam keadaan selamat. Hal ini bertujuan untuk mendokumentasikan bahwa pada hari kiamat mereka selamat dari segala hal yang dikhawatirkan.
‘Imalu ma syi`tum  (perbuatlah apa yang kamu kehendaki) berupa perbuatan yang membuahkan pelemparan ke dalam neraka dan perbuatan yang membuahkan keselamatan. Lakukanlah apa yang kalian kehendaki karena kemadaratannya hanya menimpa dirimu sendiri. Penggalan ini merupakan ancaman yang keras.
Innahu bima ta’maluna bashirun (sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan), llalu Dia membalasmu sesuai dengan amalmu.

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur'an ketika al-Qur'an itu datang kepada mereka.  Dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia. (QS. 41 Fushshilat: 41)
            Innalladzina kafaru bidzdzikri lamma ja`ahum (sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur'an ketika al-Qur'an itu datang kepada mereka). Yakni, mereka meresponnya dengan kekafiran dan keingkaran saat al-Quran datang kepada mereka atau saat pertama kali mereka mendengarnya tanpa pikir panjang dan merenungkannya lebih dahulu. Mereka mendustakannya secara spontan sebelum merenungkan dan memahaminya.
Wa`innahu lakitabun ‘azizun  (dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia), yakni yang banyak manfaatnya dan tiada taranya. ‘Aziz berasal dari al-‘izzu yang merupakan lawan kehinaan, atau berarti kuat sehingga tidak ada yang dapat menentang, membatalkan, dan mengubahnya. Meskipun al-Quran dicela dan dita`wilkan dengan keliru oleh para pelaku kebatilan, namun ia tetap terpelihara dan pada setiap zaman ada orang-orang yang mampu memeliharanya, yang membatalkan kekeliruan yang dilontarkan oleh kaum sesat dan pengumbar nafsu, sehingga ta`wilan mereka yang salah itu tertolak. Al-Quran itu kuat karena pemeliharaan Allah atasnya dan karena banyaknya orang yang membelanya dari berbagai keburukan yang dialamatkan kepadanya.
Ibnu ‘Atha menafsirkan azizun bahwa tidak ada seorang pun yang dapat meraih hekikat al-Quran karena kemuliaan al-Quran itu sendiri, kemuliaan Zat Yang menurunkannya, dan kemuliaan para wali Allah serta orang-orang pilihan yang disapanya.

Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari  Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS. 41 Fushshilat: 42)
            La ya`tihil bathilu mimbaini yadaihi wala min khalfihi (yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya), yakni al-Quran tidak dimasuki kebatilan dan kebatilan tidak menemukan jalan untuk memasukinya dari arah mana pun. Dalam hal al-Quran tidak dimasuki kebatilan dengan cara apa pun diserupakan dengan orang yang dilindungi dengan perlindungan pihak yang maha kuat dan maha gagah, yang melindunginya dari gangguan musuh dari segala penjuru.
            Atau yang dimaksud dengan “kebatilan” ialah setan. Ia tidak mampu mengubah al-Quran dengan menambah atau menguranginya. Atau al-Quran tidak dapat didustakan, baik oleh kitab yang sebelumnya maupun kitab yang sesudahnya. Atau tidak ada yang menasakhnya.
            Tanzilun min hakimin  (yang diturunkan dari  Yang Maha Bijaksana), yakni dari Tuhan Yang Maha Bijaksana yang mencegah pengubahan makna-maknanya.
Hamidin  (lagi Maha Terpuji), yang berhak menerima pujian dari seluruh makhluk di setiap tempat dengan tindakan dan perkataan.
Ali ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Ketahuilah bahwa akan terjadi fitnah.”
Aku bertanya, “Hai Rasulullah, bagaimana cara kita keluar dari fitnah itu?”
Rasulullah menjawab, “Dengan Kitab Allah. Di dalamnya terdapat berita tentang perkara sebelummu dan berita sesudahmu serta keputusan mengenai persoalan di antara kamu. Al-Quran adalah keputusan yang bukan senda gurau. Barangsiapa yang meninggalkannya karena congkak, Allah akan membinasakannya. Barangsiapa yang mencari petunjuk dari selainnya, Allah akan menyesatkannya. Al-Quran adalah tali Allah yang kuat. Ia adalah peringatan yang bijaksana, jalan lurus yang karenanya hawa nafsu tidak menyimpang, lisan tidak keliru, para ulama tidak pernah puas menelaahnya, tidak banyak orang yang menentangnya, dan keajaibannya tidak pernah habis. Al-Quran adalah kitab yang tatkala jin belum selesai menyimaknya, mereka berkata, Sesungguhnya kami mendengar al-Quran itu menakjubkan dan menunjukkan kepada jalan yang lurus, maka kami beriman kepadanya. Barangsiapa yang bertutur berdasarkan al-Quran, maka ia benar. Barangsiapa yang mengamalkannya, maka dia berada pada jalan yang lurus. Barangsiapa yang memutuskan dengannya, maka dia adil. Barangsiapa yang menyerukannya, berarti dia menunjukkan kepada jalan yang lurus” (HR. Tirmidzi).         

Tidaklah ada yang dikatakan  kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih. (QS. 41 Fushshilat: 43)
            Ma yuqalu laka (tidaklah ada yang dikatakan  kepadamu itu). Penggalan ini menghibur Rasulullah saw. yang diganggu kaum kafir. Makna ayat: Tidaklah dikatakan oleh kaummu yang kafir tentangmu dan tentang al-Qur`an yang diturunkan kepadamu…
            Illa ma qad qila lirrusuli min qablika (selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu), kecuali seperti yang telah dikatakan tentang mereka dan tentang kitab-kitab samawi lainnya, yaitu bahwa rasul sebagai tukang sihir, dukun, dan orang gila, sedangkan kitab samawi dikatakan sebagai dongeng, dan ejekan lainnya.
Wa`inna rabbaka ladzu maghfiratin (sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar mempunyai ampunan) terhadap para nabi dan orang yang beriman kepadanya.
Wadzu ‘iqabin alimin (dan memiliki hukuman yang pedih) bagi musuh-musuhnya yang tidak beriman kepada rasul dan kitab-kitabnya. Sesungguhnya para rasul sebelummu telah ditolong dan dibela dari musuhnya. Tentu Dia pun akan melakukan hal yang sama terhadap musuh-musuhmu. Dalam ayat lain dikatakan,
            Dan sesungguhnya telah didustakan  rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka (al-An’am: 34).
            Ayat di atas menunjukkan bahwa tidak ada hikmahnya memotong lidah sebagian makhluk. Perhatikanlah bahwa Allah Ta’ala tidak memotong lidah makhluk yang mencela zat Allah Ta’ala, sekalipun mereka mengatakan bahwa Allah memiliki istri, anak, dan selainnya. Jika kepada Allah saja tidak dipotong, apalagi jika mengejek para nabi, rasul, wali, dan orang-orang yang dekat dengan-Nya.

Dan jikalau Kami jadikan al-Qur'an itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya”. Apakah patut  dalam bahasa asing sedang dia orang Arab. Katakanlah, “Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang al-Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka.Mereka itu adalah  orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (QS. 41 Fushshilat: 44)
            Walau ja’alnahu qur`anan a’jamiyyan (dan jikalau Kami jadikan al-Qur'an itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab), yakni disusun dalam bahasa asing. Di sini al-Qur`an diungkapkan sebagai firman yang disusun dalam bahasa asing dalam hal maknanya tidak  dapat dipahami oleh bangsa Arab. Penggalan ini merupakan jawaban atas kaum kafir Quraisy yang menyarankan, “Mengapa al-Qur`an tidak diturunkan dalam bahasa asing?”
Laqalu (tentulah mereka mengatakan), niscaya kaum kafir Quraisy berkata,
Laula (mengapa tidak). Laula merupakan kata sarana untuk menyarankan yang semakna dengan hala. Jika kata semacam ini digunakan bersama verba madli, maka bermakna mencela dan mencerca karena meninggalkan suatu perbuatan.
Fushshilat ayatuhu (yang dijelaskan ayat-ayatnya) dengan bahasa yang kami pahami tanpa penerjemah.
A`ajamiyyun wa ‘arabiyyun (apakah patut  dalam bahasa asing sedang dia orang Arab). Pertanyaan yang bernada ingkar ini bertujuan menegaskan saran. Makna ayat: niscaya mereka mengingkarinya dan berkata, “Bagaimana mungkin dia membawa tuturan asing kepada bangsa Arab?” Tentu mereka akan semakin mendustakannya. Jika seluruh yang diturunkan itu berbahasa asing, niscaya mereka berkata, “Mengapa ayat-ayat-Nya tidak dipilah: sebagian dengan bahasa asing supaya orang asing paham, dan sebagian lagi berbahasa Arab supaya orang Arab paham.”
Tujuan ayat menerangkan bahwa bagaimanapun al-Qur`an diturunkan, niscaya mereka mengkritiknya dan mencari-cari alasan, sebab mereka tidak sedang mencari kebenaran, tetapi tengah memperturutkan hawa nafsunya.
Qul huwa lilladzina amanu hudan (katakanlah, “Al-Qur'an itu adalah petunjuk bagi orang-orang yang beriman) yang menunjukkan mereka kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
Wa syifa`un (dan penawar) bagi keraguan dan kekeliruan yang ada dalam dada, atau penawar bagi hati yang berduka sebab membacanya membuahkan kenikmatan dan merenungkannya membuahkan kelezatan. Atau menyembuhkan qalbu karena di dalamnya terdapat janji-janji yang lembut.
Walladzina ala yu`minuna fi adzanihim waqrun (dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan), yakni beban dan mereka tuli.
Wahuwa ‘alaihim (sedang al-Qur'an itu,  bagi mereka), yakni bagi kaum kafir yang ingkar.
‘Aman (suatu kegelapan) sebab telinga mereka tuli dan tidak mendengarnya dan berpura-pura buta terhadap ayat-ayat yang sebenarnya mereka lihat.
Ula`ika (mereka itu), yakni orang-orang yang jauh, pura-pura tuli dari menyimak kebenaran, dan pura-pura buta terhadap ayat-ayat yang nyata yang mereka lihat.
Yunadauna min makanin ba’idin  (adalah  orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh). Penggalan ini menggambarkan keadaan  mereka  yang tidak merespon dan menyimak al-Qur`an dengan orang yang diseru dan dipanggil  dari jarak yang jauh, yang biasanya panggilan demikian tidak terdengar.
            Diriwayatkan dari adh-Dhahak: Pada hari kiamat mereka akan dipanggil dengan namanya yang paling buruk dari tempat yang jauh. Yakni dikatakan, “Hai orang fasik; hai munafik”. Tentu panggilan itu sangat mencela dan menghinakan mereka.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya mereka terhadap al-Qur'an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingungkan. (QS. 41 Fushshilat: 45)
Walaqad ataina Musal kitaba fakhtulifa fihi (dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu). Demi Allah, Kami telah memberikan Taurat kepada Musa, lalu ia diperselisihkan: ada orang yang mendustakan dan ada pula yang membenarkan. Demikian pula dengan sikap kaummu terhadap al-Qur`an yang Kami berikan kepadamu: ada yang mempercayainya dan ada pula yang mengingkarinya. Memperselisihkan kitab merupakan kebiasaan lama yang tidak hanya dilakukan oleh kaummu. Penggalan ini menghibur Rasulullah saw.
Walaula kalimatun sabaqat mirrabbika (kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Tuhanmu) tentang umatmu yang mendustakan, yaitu keputusan untuk menangguhkan azab bagi mereka hingga hari kiamat seperti ditegaskan dalam firman Allah, Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka (al-Qamar: 46). Dan seperti firman Allah, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan (an-Nahl: 61) …
Laqudhiya bainahum (tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan) di dunia dengan menumpas kaum pendusta hingga ke akar-akarnya sebagaimana yang diterapkan pada umat-umat terdahulu. Atau, penumpasan tidak dilakukan karena Nabi saw. merupakan nabi rahmat, karena Mekah merupakan tempat hijrah para nabi dan rasul serta tempat turunnya para malaikat muqarrabin. Jika di Mekah terjadi penumpasan, niscaya ia menjadi seperti perkampungan kaum ‘Ad dan Tsamud, sehingga timbullah rasa takut dalam hati manusia. Di samping itu, Ibrahim a.s. pernah berdoa, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka (Ibrahim: 37). Jadi, hikmah Allah menetapkan untuk tidak menjadikan tanah haram yang penuh berkah lagi aman sebagai ajang keburukan; bahwa Dia menghindarkannya dari buah kemurkaan.
Wa `innahum (dan sesungguhnya mereka), yakni kaummu yang kafir.
Lafi syakkim minhu muribin (terhadap al-Qur'an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingungkan), yakni kekacauan akal yang menimbulkan keraguan.

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka  untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka untuk kerugian dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba. (QS. 41 Fushshilat: 46)
Man ‘amila shalihan (barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh), misalnya beriman kepada kitab-kitab dan mengamalkan tuntutannya.
Falinafsihi (maka  untuk kebaikan dirinya sendiri), yakni amalnya atau manfaat amalnya adalah bagi dirinya sendiri, bukan bagi orang lain.
Waman asa`a fa’alaiha (dan barangsiapa yang berbuat jahat maka untuk kerugian dirinya sendiri), yakni kemadaratannya bagi dirinya, bukan bagi orang lain.
Wama rabbukan bizhallamil lil’abidi (dan sekali-sekali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba), lalu Dia menindak mereka dengan apa yang tidak selayaknya mereka terima, tetapi Dia Mahaadil dan Maha memberi karunia, Yang membalas setiap individu selaras dengan usahanya. Makna ayat: Dia Mahasuci dari kezaliman sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun (al-Kahfi: 49).
Dalam Hadits qudsi dikatakan,
Sesungguhnya Aku mengharamkan diri-Ku berbuat kezaliman. Maka janganlah kalian saling menzalimi (HR. Muslim).
Zalim berarti menggunakan milik orang lain atau melampaui batas dalam permusuhan. Hal ini mustahil dilakukan Allah Ta’ala, sebab seluruh alam ini milik-Nya. Dalam Hadits lain ditegaskan,
Barangsiapa yang berjalan bersama orang zalim guna menolongnya, sedang dia tahu kezalimannya, berarti dia keluar dari agama Islam (HR. Thabrani).
            Maka orang yang berakal hendaknya bergegas untuk senantiasa melakukan amal saleh, terutama tatkala merebaknya kezaliman dan kerusakan serta ketika diri dan tabi’at dikuasai oleh syahwat. Sesungguhnya keteguhan dalam kebenaran pada kondisi semacam itu sangatlah baik dan utama.

Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari  memanggil mereka, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu”; mereka menjawab, “Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian” (QS. 41 Fushshilat: 47)
Ilaihi (kepada-Nyalah), yakni kepada Allah Ta’ala, bukan kepada selain-Nya.
Yuraddu ‘ilmus sa’ati (dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat). Pengetahuan tentang waktu kiamat dikembalikan kepada Allah Ta’ala semata, sebab tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Jika tiba, Dia memutuskan siapa pelaku kebaikan dan pelaku keburukan dengan menganugrahkan surga dan neraka.
Wama takhruju min tsamaratin min akmamimah (dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya), yakni dari tempatnya sebelum terbelah. Ada pula yang menafsirkan akmam dengan kulit luar dari buah seperti muncang, pala, kacang, dan selainnya. Kimmun berarti tempat dan selaput buah; sesuatu yang menyelubungi buah, sebagaimana al-kummu ialah kain yang menutupi tangan (sarung tangan).
Wama tahmilu min untsa wala tadla’u (dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak melahirkan), yakni bersalin di suatu tempat di permukaan bumi.
Illa bi’ilmihi (melainkan dengan sepengetahuan-Nya). Makna ayat: Tiada suatu perkara yang terjadi seperti keluarnya buah, kehamilan wanita, dan kelahiran anak melainkan tercakup oleh pengetahuan Allah yang meliputi; terjadi selaras dengan keterkaitan pengetahuan-Nya dengan perkara itu. Dia mengetahui waktu keluarnya buah dari kelopaknya, jumlahnya, dan hal-hal lainnya sebab buah itu mencapai kematangan, atau buah itu rusak; mengetahui waktu kehamilan, jumlah masanya, saatnya, dan keadaannya, apakah ia sungsang, sempurna, laki-laki, perempuan, tampan, buruk, dan selainnya; mengetahui kapan ia melahirkan dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Yakni, Dia mengetahui waktu terjadinya kiamat. Jika kamu ditanya tentangnya, serahkanlah pengetahuan tentang itu kepada-Nya dan katakanlah, “Allah Mahatahu.” Juga dikembalikan kepada-Nya pengetahuan tentang segala kejadian yang akan datang tentang buah-buahan, tumbuhan, dan sebagainya.
Diriwayatkan bahwa Manshur ad-Dawaniqi merasa bingung dengan lamanya usia. Maka saat tidur dia bermimpi melihat seseorang mengeluarkan tangannya dari samudra sambil menunjukkan lima jari. Dia meminta ditakwilkan kepada para ulama. Di antara mereka ada yang mentakwilkannya lima tahun, lima bulan, dan sebagainya. Sementara itu Abu Hanifah rahimahullah mentakwilnya dengan lima kunci kegaiban. Dia membaca ayat,
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, Dia-lah yang menurunkan hujan, Yang mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Luqman: 34).
Melalui ayat ini jelaslah mengapa pengetahuan tentang kimat disatukan dengan pengetahuan tentang keluarnya buah, sebab keluarnya buah tercakup oleh turunnya hujan, sebab dengan hujan dan angin tumbuhlah tanaman dan tampaklah buah-buahan.
Wayauma yunadihim (pada hari  memanggil mereka), yakni hai Muhammad, ceritakanlah kepada kaummu tatkala Allah memanggil mereka.
Aina syuraka`i (di manakah sekutu-sekutu-Ku itu), sebagaimana kalian katakan. Hal ini senada dengan firman Allah, Dan ingatlah pada hari Allah menyeru mereka seraya berkata, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” (al-Qashash: 74).
Qalu adzannaka (mereka menjawab, “Kami nyatakan kepada Engkau), yakni Kami beritahukan dan informasikan kepadamu…
Ma minna min syahidin (bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian) ihwal persekutuan mereka karena kami berlepas diri dari mereka setelah kami melihat persoalan dengan jelas. Dengan demikian, pertanyaan ihwal mereka bertujuan mencela.

Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka sesuatu jalan keluarpun. (QS. 41 Fushshilat: 48)
Wa dlalla ‘anhum ma kanu yad’una min qablu (dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu), yakni lenyaplah dari kaum musyrikin tuhan-tuhan yang dahulu mereka sembah ketika di dunia; atau jelaslah tiadanya manfaat mereka, sehingga keberadaannya sama dengan ketiadaannya.
Wa zhannu ma lahum mim mahishin (dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka sesuatu jalan keluar pun). Mahish berarti tempat unuk melarikan diri dan berpaling.

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (QS. 41 Fushshilat: 49)
La yas`amul insanu (manusia tidak jemu) dan tidak bosan. Sifat ini berlaku bagi setiap jenis manusia dengan menyipati keumuman setiap individu yang suka bosan, karena keputusasaan dari rahmat Allah tidak dialami kecuali oleh orang kafir seperti yang akan diterangkan.
Min du’a`il khairi (memohon kebaikan), yakni meminta kelapangan nikmat dan aneka sarana penghidupan. Makna ayat: pada saat manusia menerima kebaikan, dia tidak sampai pada tingkat yang membuatnya tidak meminta tambahan atas kebaikan itu; dia tidak bosan-bosannya untuk selalu memintanya.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia diciptakan dengan karakter selalu meminta kebaikan, sehingga dia tidak bosan meminta.
Wa`im massahus syarru (dan jika mereka ditimpa malapetaka) berupa kesulitan dan kesempitan hidup…
Faya`usun qanuthun (dia menjadi putus asa lagi putus harapan), yakni dia sangat berputus asa dari harapan mendapatkan karunia dan rahmat Allah. Qanuth berarti putus asa yang berlebihan, yang dampaknya terlihat nyata pada seseorang, sehingga dia menjadi kurus dan pemurung.

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. (QS. 41 Fushshilat: 50)
            Wala`in adzaqna rahmatam minna mimba’di dlarra`a massathu (dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan) dengan melenyapkan penyakit dan kesempitan dari dirinya dengan memberi rahmat berupa kesehatan dan kelapangan…
Layaqulanna hadza li (pastilah dia berkata, “Ini adalah hakku), yakni kebaikan ini adalah hakku dan aku mendapatkannya karena memang aku berhak mendapatkan karunia ini. Maka ia takkan lenyap dariku. Dia tidak tahu bahwa Allah-lah yang telah memberinya guna mengujinya, apakah dia akan bersyukur atau kufur. Jika Dia berkehendak, niscaya Dia menghentikannya.
Wama azhunnus sa’ata qa`imatan (dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang) dan terjadi seperti dikatakan oleh Muhammad.
Wala`in ruji’tu ila rabbi (dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku) dengan mengandaikan terjadinya kiamat dan ba’ats…
Inna li ‘indahu lalhusna (maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya), yakni kondisi yang baik berupa karunia dan hak mendapatkannya. Dia yakin bahwa nikmat dunia itu diraihnya karena dia memang berhak menerimanya, demikian pula dengan nikmat akhirat, lantaran sarananya terwujud pula di akhirat. Ada pula ulama yang menafsirkan inna li ‘indahu lalhusna dengan surga. Dia mengatakan demikian untuk mengolok-olok.
Falanunabbi`annal ladzina kafaru bima ‘amilu (maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan), yakni Kami akan memberitahu mereka akan hakikat perbuatan mereka tatkala Kami menampilkannya dalam  sosoknya yang hakiki, sehingga tampaklah keburukan dan kehinaannya, bukan tampak kebaikannya sehingga layak dihargai.
Walanudziqannahum min ‘adzabin ghalizhin (dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras), yang tidak diketahui hakikatnya dan tidak mungkin melepaskan diri darinya. Karena kerasnya, seolah-olah ia meliputi mereka dari segala penjuru. Dahulu, ketika di dunia, dia diazab dengan diusir dan dikucilkan. Namun, karena dia tidak merasakan pedihnya azab itu, maka Allah menimpakannya begitu dia bangun dari tidur kelalaiannyan, yaitu setelah mati. Hal ini seperti ditegaskan oleh Ali karamallahu wajhah, “Manusia itu tidur. Jika mereka mati, barulah sadar.”
Seolah-olah dikatakan: Kami akan merasakan azab yang menghinakan kepada mereka dengan azab yang besar alih-alih kemuliaan dan penghargaan dari Allah Ta’ala seperti yang mereka yakini. Dapat pula ditafsirkan: Azab disifati dengan keras karena kerasnya tubuh orang yang diazab. 

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo'a. (QS. 41 Fushshilat: 51)
            Wa`idza an’amna ‘alal insani a’radla (dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling) dari mensyukuri nikmat-Nya. Inilah jenis lain dari kesesatan kaum kafir. Jika Allah memberinya nikmat, maka nikmat itu membuatnya congkak dan seolah-olah dia tidak pernah ditimpa kesulitan, sehingga dia lupa kepada Pemberi nikmat dan kufur nikmat dengan tidak mensyukurinya.
Wana`a bijanibihi (dan menjauhkan diri) secara total dari bersyukur. Dia tidak cenderung kepada ketaatan dan syukur karena congkak dan sombong.
Wa idza massahus syarru (tetapi apabila ia ditimpa malapetaka). Jika manusia yang berpaling dan sombong ini ditimpa semacam keburukan seperti bencana dan ujian…
Fadzu du’a`in ‘aridlin  (maka ia banyak berdo'a), maka dia memanjatkan doa sebanyak-banyaknya.

Katakanlah, “Bagaimana pendapatmu jika  itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh” (QS. 41 Fushshilat: 52)
            Qul ara`aitum (katakanlah, “Bagaimana pendapatmu), yakni beritahukanlah kepadaku.
In kana (jika  ia), yakni jika al-Qur`an itu …
Min ‘indillahi tsumma kafartum bihi (datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya) tanpa merenungkannya dan mengikuti dalil, padahal demikian kuat hal-hal yang memastikan untuk mengimaninya.
Man adlallu mimman huwa fi syiqaqim ba’idin (siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh). Yakni, siapakah yang lebih sesat daripada kamu? Sesungguhnya orang yang kafir kepada apa yang diturunkan dari sisi Allah, misalnya dengan menuduhnya sebagai dongeng orang-orang terdahulu dan ungkapan lainnya, berarti dia menentang dan menyalahi Allah dengan sejauh-jauhnya sehingga tidak dapat dikompromikan dan didamaikan. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang seperti itu berada dalam kesesatan yang sangat jauh.
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa setiap bencana, kesulitan, kemadaratan, dan nestapa yang menimpa hamba adalah dari sisi Allah. Barangsiapa yang menerimanya dengan pasrah, rela, sabar, dan syukur kepada al-Maula, baik saat sejahtera dan lapang maupun saat sulit, maka dia termasuk orang yang mendapat hidayah yang didekatkan dengan Allah. Jika dia menerimanya dengan kekafiran dan keluh kesah, dia termasuk orang yang celaka lagi dijauhkan dan sesat. Sebagaimana neraka tidak menyisakan suluh apa pun melainkan dilahapnya, demikian pula cobaan akan melenyapkan kesulitan wujudiah apa pun. Bagaimana mungkin orang berakal mendambakan kesenangan di dunia, padahal ia merupakan negeri ujian? Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Dunia merupakan penjara orang Mu`min.” Maka orang Mu`min tidak akan merasakan kesenangan di dunia, tidak terlepas dari kekurangan, penyakit, dan kehinaan. Namun, dia akan meraih kesenangan yang sangat besar di akhirat, sedangkan orang kafir merugi baik di dunia maupun di akhirat. Maka seorang hamba hendaknya berjalan di atas jalan yang lurus dan khawatir tergelincir dan terperdaya.
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda  Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup  bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu (QS. 41 Fushshilat: 53)
Sanurihim (Kami akan memperlihatkan kepada mereka), yakni kepada kafir Quraisy.
Ayatina (tanda-tanda  Kami) yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an dan keberadaannya dari sisi Allah.
Fil afaqi (di segenap ufuk). Ufuq artinya segala sesuatu yang ada di luar dirimu, mulai dari bumi hingga ‘arasy. Adapun anfus ialah yang ada pada dirimu yang disebut mikrokosmos, yaitu setiap individu manusia. Yang dimaksud dengan ayat yang ada pada ufuk ialah segala sesuatu yang diinformasikan oleh Nabi saw. seperti peristiwa yang akan datang, misalnya kemenangan Romawi atas Persia dan jejak peristiwa masa lalu yang selaras dengan perediksi dan ketetapan para ahli sejarah, padahal Nabi saw. itu ummi, tidak dapat membaca dan menulis serta tidak pernah bergaul dengan seorang pun di atara sejarawan. Ayat ufuq juda meliputi aneka kemenangan dan penaklukan - yang menggembirakan para sahabat – atas berbagai belahan dunia dan penguasaan berbagai negara di timur dan barat secara luar biasa, sebab hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh siapa pun di antara penguasa  sebelumnya.
Wa fi anfushim (dan pada diri mereka sendiri) seperti kekeringan dan ketakutan yang melanda penduduk Mekah dan kekalahan pada Peristiwa Badar serta penaklukan kota Mekah. Kita tidak memeiliki informasi bahwa ada manusia yang berhasil menaklukan Mekah, menumpas pendudukanya dan menawan mereka selain Nabi saw.
Ada pula yang menafsirkan fil afaqi dengan berbagai belahan langit dan bumi seperti matahari, bulan, bintang-bintang, dan dampak dari semuanya seperti malam, siang, terang, gelap, tumbuhan, pepohonan, dan sungai. Wa fi anfusihim ditafsirkan dengan aneka ciptaan-Nya yang halus dan memiliki hikmah yang menakjubkan, penciptaan janin dalam beberapa kegelapan rahim, terciptanya anggota badan dan susunan yang menakjubkan. Penggalan ini seperti firman Allah, Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (adz-Dzariyat: 21).
Penafsir di atas berdalih bahwa sin pada sanurihim – padahal ayat-ayat tersebut telah ada sejak sebelumnya – menunjukkan bahwa ayat itu akan diperlihatkan-Nya dari waktu ke waktu dan mereka akan ditambah pemahaman tentangnya dari hari ke hari.
Hatta yatabayyana lahum annahul haqqu (sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar), atau Allah itu Haq atau ketauhidan itu hak. Makna ayat: sehingga jelaslah bagi mereka – sejelas perkara yang disingkapkan dan diterangkan – bahwa al-Qur`an ini adalah hak dan diturunkan dari sisi ar-Rahman, tanpa sekutu, dan tanpa ada yang menandingi-Nya.
Awalam yakfi birabbikan (dan apakah Tuhanmu tidak cukup). Penggalan ini disajikan untuk mencela mereka yang ragu-ragu terhadap al-Qur`an, keingkarannya kepada ayat-ayat yang jelas, dan tidak menganggap cukup dengan pemberitahuan Allah Ta’ala. Makna ayat: apakah Tuhanmu tidak cukup dan memadai …
Annahu ‘ala kulli syai`in syahidun (bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu), apakah ayat-ayat yang menerangkan kebenaran al-Qur`an itu tidak cukup bagi mereka? Apakah tidak cukup bagi mereka untuk membenarkan al-Qur`an dengan kenyataan bahwa Allah menyaksikan semua itu?
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka.Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. (QS. 41 Fushshilat: 54)
Ala innahum (ingatlah bahwa sesungguhnya mereka), yakni kaum kafir Mekah.
Fi miryatin (adalah dalam keraguan) yang besar dan kekeliruan yang dahsyat.
Min liqa`I rabbihim (tentang pertemuan dengan Tuhan mereka) melalui ba’ats dan pembalasan. Mereka memandang mustahil dihidupkannya orang yang telah mati setelah bagian tubuhnya terpisah-pisah dan hancur.
Ala innahum bikulli syai`im muhithun (ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu). Ihathah berarti mengetahui sesuatu seluruhnya dan seutuhnya. Yakni, Dia mengetahui segala perkara, baik secara umum maupun terperinci, baik lahiriahnya maupun batiniahnya. Maka tidak ada satu pun dari persoalan mereka yang samar bagi-Nya. Dia pasti akan membalas kekafiran dan keraguan mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar