Senin, 06 Desember 2010

ZISWA MAKMURKAN UMAT



Oleh : Suryo Idhianto

Pendahuluan
Uang bukan segalanya tapi segalanya harus menggunakan uang. Ini diartikan setiap aktivitas manusia harus menggunakan uang dan ini merupakan penomena alam yang sudah terjadi dalam kehidupan manusia di zaman ini. Oleh karena itu maka sebagai khalifah di bumi ini adalah tugas kita untuk peduli melakukan perencanaan dan strategi agar Islam menjadi panutan bagi seluruh umat manusia. Dan cara merubah kehidupan kita saat ini untuk menjadi lebih baik di kemudian hari adalah Merubah Pola Pikir dan Memberi Nilai Tambah (Peduli) sekarang juga.

A.     Perencanaan ZISWA
Allah SWT Maha Mengetahui, Dia mengetahui apa-apa yang ada di muka bumi dan apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Allah SWT juga telah memberitahu kita cara-cara terlepas dari kesulitan dengan firman-firmanNya yang ada dalam Al-Qur’an. Namun kadang kita terlalu sibuk untuk merencanakan masa depan tanpa bertanya kepada Allah SWT. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya bertanya kepada Allah SWT? Jawabannya adalah Iqra’!! (bacalah!!). Maksud dari jawaban ini adalah membaca firman-firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an dan juga menjalankan Sunnah Rasulullah SAW melalui hadits-hadits yang shahih. Al-Qur’an adalah kitab yang tidak diragukan kebenarannya bagi umat yang menamakan dirinya sebagai muslim. Al-Qur’an juga merupakan kitab yang dihasilkan dari penyempurnaan kitab-kitab terdahulu (zabur, taurat dan injil).
Perencanaan dana umat Islam dan cara mendapatkannya telah dikemukakan Allah SWT dalam Al-Qur’an, di antaranya :
1. Surah Al-Jumu’ah Ayat 10 : “Apabila shalat jum’at sudah dilaksanakan maka menyebarlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan banyaklah mengingat Allah supaya kamu beruntung”
Di surah ini Allah SWT telah menyatakan untuk mencari karunianya dan memberitahu cara untuk mendapat keuntungan.

2. Surah Az-Zumar Ayat 53 : “Hai hamba-hambaKu yang telah sembrono terhadap dirinya (pemboros dan menuruti hawa nafsu), janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah dapat mengampunkan semua dosa, sesunggunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Di surah ini Allah SWT mengajarkan agar kita tetap optimis. Optimis merupakan awal dari kesuksesan.

3. Surah Al-Baqarah Ayat 261 : “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir padi yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji, Allah melipatgandakan bagi siapa yang disukai-Nya dan Allah Maha Luas Karunia-Nya dan Maha Mengetahui”
Di surah ini Allah SWT menyatakan bahwa rezeki tidak hanya didapat dari usaha dan bekerja belaka namun rezeki bisa didapat secara cuma-cuma dengan cara berinfaq/shadaqah pada jalan Allah.
4. Surah At-Taubah Ayat 35 : ”Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."
Di surah ini Allah SWT menyatakan wajib zakat bagi harta yang disimpan, karena semua harta adalah dari Allah SWT dan ada hak orang lain di antara harta-harta kita.

Ayat-ayat di atas adalah sebahagian kecil dari ayat-ayat di Al-Qur’an yang menjelaskan adanya perencanaan keuangan umat Islam. Mulai dari cara mencari karunia Allah (Rezeki), cara mempergunakannya, dan cara menjaganya. Perencanaan keuangan ini tidak hanya menimbulkan kemakmuran umat namun juga menciptakan rasa persatuan yang akhir-akhir ini semakin terkikis

B. Lembaga Amil
Allah SWT tidak hanya merencanakan keuangan secara pribadi-pribadi umat, namun juga mengajarkan secara melembaga (1 komando). Dan ini telah di firmankanNya melalui surah di Al-Qur’an, yaitu :

1. Surah At Taubah Ayat 103 : ”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”
Di surah ini Allah SWT mengajarkan untuk mendirikan Lembaga Keuangan Islam yang didalamnya terdapat Amilin yaitu orang-orang yang bertugas sebagai pengutip zakat dan menyalurkan zakat. Untuk gaji/penghasilan amilin Allah juga sudah menetapkan di surah lain yang menyatakan Amilin adalah salah satu dari 8 ashnaf penerima zakat. Dan seharusnya lembaga ini hanya ada 1 (satu) agar penghimpunan dan penyaluran menjadi efektif, yaitu merubah derajat umat Islam.
2. Surah Al-Maa’uun Ayat 1 – 7 : ”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.................Orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”

Dari 2 firman Allah SWT di atas, dapat kita analisa bahwa berhati-hati saat berzakat, berinfaq dan bershadaqah. Jika kita melampaui batas/Riya (merasa lebih tinggi derajat dari yang diberi) maka bukan karunia Allah SWT yang kita dapat, melainkan celaka karena mendustakan agama. Secara psikologis, umumnya saat memberi zakat dan shadaqah ke seseorang, kita akan merasa lebih tinggi (sebagai penolong, sebagai pahlawan dll) daripada dia (si penerima). Allah Maha Mengetahui apa yang akan terjadi dalam diri kita, sehingga Allah SWT menyerukan adanya Amilin untuk mengutip, menerima dan menyalurkan Zakat, Infaq dan Shadaqah agar kita yang mempunyai harta berlebih dan ingin berbagi tidak terjebak oleh sikap yang tidak disukai Allah SWT, yang terbentuk secara alami.
Ingat, Surah Al-Ashr 1-3 : ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Sifat alami manusia yang selalu lupa, membuat Surah ini turun. Bahwa kita harus selalu menasehati/mengingatkan dan dinasehati/diingatkan. Sehingga janganlah kita merasa mampu menguasai diri terhadap sifat riya. Dan untuk mengantisipasi hal tersebut atas ibadah Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf, maka hendaklah bersikap bijak dengan melakukannya ke lembaga amil (petugas penghimpun) sehingga sifat riya tidak muncul dalam diri kita.

Ada juga kata-kata bijak yang selalu kita dengar untuk ibadah ZISWA yaitu ”ketika tangan kanan memberi, usahakan tangan kiri jangan tahu”
Penafsiran kata-kata ini adalah tangan kanan adalah si Pemberi ZISWA dan tangan kiri adalah si Penerima ZISWA. Berdasarkan penafsiran tersebut maka lembaga amil juga sangat cocok sebagai jembatan rasa (mawaddah fil qurba) yang menjaga air muka antara si Penerima ZISWA dan si Pemberi ZISWA

Kesimpulan
Di akhir tulisan ini, penulis mengingatkan ke diri sendiri dan ke seluruh umat Islam bahwa Allah Maha Besar, Allah Maka Kuasa, Allah Maha Mengetahui dan Allah Maha Penyayang. Ini diartikan bahwa segala kehidupan yang ada ditentukan oleh Allah SWT. Sebagai hamba-Nya yang selama ini telah lupa sehingga terbelit kesulitan ekonomi maka hendaklah kembali kepadaNya. Dengan membaca Al-Qur’an sebagai petunjuk yang tidak meragukan dan juga mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, semoga selamat sejahteralah kita semua, amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar